Kamis, 22 Desember 2011

Vesper Privat!

Pelan-pelan sang rembulan menampilkan romannya di kaki langit,
mengapit sandiwara yang diam dalam kesendirian,
mencari secuil makna di balik kemegahan mikrokosmos
yang mengapik indah di balik bukit-bukit suram
yang melanda seantero jagat
yang beku dalam tebaran kesunyian
yang tak henti-hentinya berceloteh.
Kutelusuri taman-taman indah
dengan hiasan bunga-bunga bermekaran
yang terus tersenyum dalam rekahan mahkota asmara
yang ranum menatapku.
Dari kejauhan,
kemegahan gereja tua itu terpancar abadi
dengan hiasan lilin-lilin kecil
yang mencipta estetika mungil
di balik paparan semu seantero insani.
Langkah demi langkah kuayun bebas tanpa rintangan
dengan irama sendu mengisi kesunyian
yang terlelap angkuh
hingga saat ku memasang wajah tersenyum ramah
di depan pintu sang kekasih abadi
yang terpampang dalam hiasan kaca dwiwarna di atas pintu.
Lalu, kutelusuri lorong tengah
menuju deretan bangku berkode nomor sekian
dan bersimpuh di hadapan sang kekasih jiwa
yang tersalib bisu sembari menatap wajahnya, dalam.
Tak ada doa, tak ada sakramen maha kudus di sana,
sepi, sunyi!

******* 

Dante Che, 30/11/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar