Parasmu masih mengawang
Belum tertatap mata telanjang
Samar-samar terengkuh dalam terawang
Bagai bayi natal yang dalam bayang-bayang
Judesmu belumlah hilang
Masih setia menemani riang
Sejak pagi hingga petang
Laksa tanyamu setia menerjang
Apa makna natal, tanyaku
Bukan pada hal-hal serba baru
Atau nikmatnya kesenangan semu
Begitulah pekikmu dalam gurau
Dari padang gurun membongkar hal palsu
Persiapkan kedatangan sang guru
Hingga kini masih berseru-seru
Tetap berkobar bertalu-talu
Terngiang percakapan bersama suster Monica
Dalam balutan kemuning senja
Dan momen keterbatasan pulsa
Singkat via seluler yang buat merekah rona muka
Bukanlah pada fiksi atau nyata
Bukan pula kehebatan dalam mencerna
Tapi spirit apa yang dibawa
Dalam rangkaian lika liku cerita
Papua, Tiaka, Bima, hingga Mesuji
Semuanya ditembak mati
Seolah-olah korban buat malam suci
Menyambut kedatangan sang bayi
Penindasan! Kau mengutuk memaki
Seperti Sondang yang membakar diri
Sembari berdoa dalam hati
Kau berkarya dalam sunyi
Tak perlu selalu tengadah ke langit
Seperti tiga majus yang jadi berbelit-belit
Terjanglah birokrasi yang membuncit
Yang lamban mengabdi berjinjit-jinjit
Tumpuklah kebaikan hingga berbukit-bukit
Tetaplah menghampiri kala terdengar jerit
Dalam pelayanan dan doa berbait-bait
Melindungi kaum ibu, kaum lapar dan sakit
Ditulis kala membaca Maria mengunjungi Elisabeth
Ditemani dentuman lantunan cadas Macbeth!
*******
Dante Che, 26/12/2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar