Kamis, 22 Desember 2011

Gajah Sama Gajah Bercinta

Gajah Sama Gajah Bercinta
Pelanduk Mati di Tengahnya
  
cc: RN (Penggemar Valentino Rossi dan Dieogo Maradona)

Senja telah pecah di ufuk Barat. Lapangan bola di samping kontrakanku sudah ramai oleh penonton. Laki-perempuan, tua-muda, menyemut jadi satu. Pertandingan bola yang akan segera dimainkan hanya pertandingan tingkat kampung, tapi semua mata tak mau melewatkannya.

Kedua tim sudah bersiap. Dua orang pelatih—Jabo Arwana pelatih dari club ABJ FC dan Roy Wardana, pelatih dari S3OR FC—berdiri di pinggir lapangan. Si Jabo dengan botol bir di tangan kanan memerintahkan anak buahnya untuk segera bersiap. Sementara itu, si Roy dengan merangkul perempuan muda, tak kalah tangkas, memberikan komando agar pemainnya tak loyo di lapangan.

Bersama anakku, aku segera berbaur dengan yang lain. Anak lelakiku yang duduk di atas pundak berjingkrak sambil memegangi rambutku. Para pemain ABJ FC (Anak Buah Jabo) dan S3OR FC (Susah Senang Sama Om Roy) telah berjajar di tengah tanah lapang. Nama-nama pemain club ABJ FC dari kiri ke kanan: Jiko1, Dorce2, Liek3, Mang Odon4, Arlo Katropul5, AA’6, Lalu Mati7, Si Item8, Si Upik9, Kananda10, dan Tiwik11. Sedangkan pemain cadangan mereka Ahmad12 dan Bung Tomo13.

Sedangkan pemain club S3OR dari kanan ke kiri adalah: Ki Mojo14, Doyok15, Toni16, Kisti17, Arin18, Widya19, Ginanjaran20, Kumar21, Suk22, Lis23 dan Paul24. Mereka tidak memiliki cadangan karena dana yang compang-camping.

Kini semua pemain sudah berada di tengah lapangan. Wasit pertandingan ini—Bung BY dibantu asisten wasit Sarif dan Usup—telah siap. Peluit pun ditiup. Bola bergulir di lapangan. Club ABJ FC segera melakukan serangan. Pemain mereka yang penuh nafsu—baik nafsu seksnya maupun nafsu memburu uwang—mengepung pertahanan club S3OR FC yang tampak loyo-loyo karena sudah tiga hari belum makan.

Penonton bersorak-sorai. Orang-orang berseragam doreng bertempik sorak, begitu dengan pula yang berkacamata hitam dan berpeci hijau. Lapanganpun bergemuruh. Anak lelakiku semakin bertingkrak-jingkrak ketika Si Upik berhadapan satu lawan satu dengan Paul. Keduanya yang bertubuh tambun berebut bola. Karena terlalu bernafsu akhirnya terjatuh terguling-guling di tengah lapangan. Paul menindih Si Upik. Pada detik berikutnya Si Upik menindih Paul. Penonton semakin bergemuruh.

Bola bergulir ke kaki Mang Odon. Doyok mencegat Mang Odon. Kaki ketemu kaki, tangan bertemu tangan. Keduanya adu kuat mencari simpati. Bola lepas, menggelinding ke kaki Arlo. Bak Maradono ia mengocek bola menuju gawang. Bola dioperkan ke AA’ yang menerimanya dengan dada. Ketika bola akan menyentuh tanah kaki kanan AA’ menendangnya. Bola meluncur melengkung menuju mulut gawang. Sebagai penjaga gawang Ki Mojo berusaha menjemput bola yang melaju. Tapi bola tak mau, hingga menerobos ke dalam gawang.

Penonton berbaju doreng bertempik sorok.

Begitu juga dengan yang berpeci hijau.

Skor 1-0.

Bola kembali berada di tengah. Bung BY meniup peluit. Bola kembali melaju. Paul mengiring bola tapi Mang Odon menarik celananya. “Barang istimewa” dalam celana Paul bergelantungan tak menentu. Penonton memalingkan muka karena malu. Bola terus melaju. Dorce menggiring bola. Ginanjaran menghadangnya. Seru mereka berebut bola. Istri Ginanjaran yang berada di pinggir lapangan tampak ragu. Bola di kaki Ginanjaran, Dorce merebutnya. Bola kembali direbut. Dorce tak mau kena malu, bola diserobotnya lagi. Ginanjaran yang kalah nafsu tak mampu mengejar. Dorce terus melaju. Ada Arin menghadangnya. Ia tampak ragu. Gundukan bukit kembar di balik kaos Arin membuatnya pilu. Dulu ia pernah mendaki gundukan bukit itu, tapi itu masa lalu.
Bung BY meniup peluit tanda babak pertama berakhir.

***

Melihat jalannya pertandingan pada babak pertama sebetulnya sudah bisa ditebak siapa pemenangnya. Perlu engkau tahu, dulu sebelum beradu mereka sebenarnya satu tim, yaitu AKM FC (Aku Kalah Melulu). Karena kalah melulu akibatnya semua anggota club miskin melulu. Siapa yang sanggup miskin sepanjang waktu? Tak ada itu. Maka club AKM FC mencari modal baru. Seorang makelar pun datang menawarkan modal dari orang terkuat di negeri ini—seperti halnya Machester City mendatangkan pemodal baru, mantan PM Thailand. Gayung pun bersambut. Lewat Jabo Arwana modal itu berlalu ke club AKM. Sejak saat itu nasib pun berbalik arah. Miskin mulai menjauh. Dari sini masalah bermula.

Modal yang mengalir tak terbagi rata. Hanya orang-orang tertentu yang merasakannya. Akibatnya, yang tidak kececeran mulai meradang. Perpecahan pun tak terhadang. Maka AKM FC pecah menjadi dua, ABJ dan SO3R. Bila ada yang bilang perpecahan karena perbedaan filosofi dalam pertandingan, strategi penyerangan, dan organisasi pertahanan, itu hanya baju. Pokok persoalan sebanarnya hanya satu: modal yang tak terbagi rata alias masalah perut. Tak ada yang lain selain itu.

***

Pertandingan kembali akan dimulai. Bung BY kembali ke lapangan. Anakku yang habis jajan pulang kepundakku. Penonton pun menatap tanah lapang. Pemain club ABJ sudah masuk lapangan namun pemain S3OR tak kelihatan ujung hidungnya. Penonton pun menunggu. Tanpa terduga Roy Wardana masuk ke lapangan dengan memeluk perempuan muda. Di tengah tanah lapang ia melepas kaos putihnya. Kaos itu kemudian dilemparkan ke udara tanda menyerah. Wasit pun langsung meniup peluit panjang tanda pertandingan usai. Tak terduga memang, club ABJ FC meraih kemenangan mutlak dengan skor 10-0. Mereka berjingkrak-jingkrak riang. Lawan mereka menyerah kalah sebelum pertandingan sebenarnya usai.

“Hidup ABJ! Hidup ABJ!” teriak penonton berbaju doreng.

“Engkaulah abdi kami sejati!” teriak penonton perpeci hijau.

Basru, komandan penonton berpeci hijau maju ke depan. Ia meletakkan karangan bunga beruntai rangakaian tai kering ke leher Jabo Arwana. Mendapatkan penghormatan itu Jabo Arwana tersenyum riang. Ia tuangkan bir ke kepalanya hingga meleleh ke seluruh tubuhnya.

Begitulah pertandingan usai. Dan, aku pun bersama anak lelakiku pulang ke rumah menemui istri. Cerita usai sampai di sini. Sampai jumpa lagi!

***



1 Pemuda kelahiran Boyolali ini selain gemar menenggak alkohol juga gemar vagina perempuan Cina. Sebagai penjaga gawang ialah benteng terakhir club ABJ. Tanpa kehadiran Jiko maka bisa dikatan kalau Jabo Arwana akan seperti alat kelamin yang impoten, ada barangnya tapi tak berfungsi.
2 Pemuda jebolan dari perguruan tinggi tidak ternama di Surabaya ini, ibarat kuda sumbawa alias mempunyai alat kelamin yang liar. Perjalanan hidupnya memang berliku, dari vagina satu ke vagina lainnya—kasus terakhir secara illegal ia memakai vagina istri temannya. Sebagai bek tengah ia berfungsi seperti Maldini di AC Milan, menjaga lawan sebelum berhadapan dengan penjaga gawang.
3 Mantan penjual bakso ini tak perlu diulas lebih panjang karena semuanya sudah tahu sejarah hidupnya.
4 Anak turun Siliwangi ini penyuka gelek. Hirup napasnya adalah asap gelek. Oleh karena itu, tak salah kalau kemudian ia berlabuh pada club ABJ yang banyak modalnya agar kebutuhan akan gelek terpenuhi. Awalnya dia memang miskin, hanya mempunyai satu celana dalam. Dan sekarang dengan bergabung dengan tim asuhan Jabo Arwana, ia berharap garis hidupnya bisa berubah. Demi hal ini ia rela satu tim dengan Dorce yang pernah dijulukinya Tomi J Pisa karena kecengengannya.
5 Pemuda yang dulunya hanya seseorang yang buta huruf dan diambil dari jalanan ini sekarang telah menjadi tenar. Dulu memang hanya seorang loper koran Pembebasan, tapi kini menjadi tukang loper uang. Sudah biasa kalau dalam masa ketenaran ini ia lupa akan jati dirinya, alias kacang lupa akan kulitnya. Dengan berjualan rakyat miskin ia mereguk keuntungan demi keuntungan. Inilah generasi kere munggah bale (jembel yang naik ke istana) yang bisa menikmati hidup dengan menjual para jembel.
6 Karena ijazah STM Pembangunan tak memungkinkan untuk hidup di Jakarta maka ia memilih bergabung dengan club ABJ yang memang bisa menghasilkan banyak rupiah. Awalnya, ketika di Jogja dan belum setenar sekarang, ia hanya seorang loper koran jalanan dengan sepeda motor pinjaman. Dari anak jalanan yang tak jelas rimbanya ini kemudian “di asuh” oleh Kamcrut di Sleman dan mendapat didikan dari Aples di Kricak, Jatimulyo. Sejak saat itu ia mulai bertumbuh menjadi pemain yang piawai. Kini setelah menjadi pemain tenar—seperti halnya Arlo Katropul—berubah menjadi kacang yang lupa kulitnya. Ialah tipe pemain paling ideal dari generasi Malin Kundang. Salah satu pengalaman menarik yang pernah dilaluinya adalah bersama cerpenis/esais Pathut KA mengadu pada patung Roro Jongrang di Candi Prambanan sambil meremas-remas payudara Roro Jonggrang—dari peristiwa ini ia mengalami orgasme mistis untuk pertama kalinya, dan sejak saat itu mengubah dirinya dari jembel jalanan menjadi ksatria. Secara kejiwaan ia sedikit menderita penyakit oidipus complex. Kabar terakhir konon kabarnya ia sedang menjalin hubungan dengan perempuan setengah baya (WSB).
7 Hampir sama dengan AA’. Jebol dari universtitas kecil di selatan Jogja tak akan mungkin bisa hidup di kota metropolis Jakarta. Oleh karena itu, ia bergabung dengan club ABJ. Sewaktu datang ke KPW Jogjakarta tiga tahun yang lalu bersama satu temannya, ia masih seperti kucing yang sakit-sakitan—mata beleken dan ingusan dengan bulu yang dekil—sangat berdeda dengan sekarang. Sama seperti Arlo dan AA’, ia generasi kader Malin Kundang. Terakhir ia terlihat jualan Tuhan diacara Kizal Kamli CS. Konon kabarnya dari jualan ini berlembar-lembar rupiah masuk dalam rekeningnya.
8 Bergabung dengan club ABJ semata-samata satu selera dengan sang pelatih: sama-sama penyuka bir. Dididik di seminari, kemudian direkrut dalam Kasbul (Kaderesasi Sebulan), menempatkan sosoknya seperti Pater Beek—sang penggagas Kasbul untuk menandingi komunis.
9 Sebagai peraih Maksasay ia merupakan salah satu penarik rupiah terbesar dalam club ABJ. Perannya sama seperti David Beckham, sudah tidak terlalu terampil bermain tapi masih bisa dijual.
10 Lelaki kelahiran Aceh ini bergabung dengan club ABJ karena takut kalau dosa-dosanya dibongkar oleh Jabo Arwana.
11 Pemuda desa yang tak tamat kuliah ini merantau ke Jakarta. Mengingat sosoknya maka akan memaksa memori terbawa pada penggalan lagu darah juang: Pemuda desa tak kerja. Punya satu istri dan tidak punya kerja membuat dirinya menambatkan pilihan pada club ABJ. Ada yang unik dari dirinya, tak pernah baca buku tapi menduduki jabatan pendidik di salah satu organ tani. Kabar terakhir selain sebagai pemain bola ia juga berprofesi sebagai tukang pukul.
12 Ia memang ditakdirkan oleh sejarah untuk menjadi pemuda yang peragu. Lompat dari satu perempuan ke perempuan lain, akhirnya kembali ke perempuan pertama. Memang sayang kalau rakyat Aceh mempunyai pemimpin masa depan seperti bung yang satu ini.
13 Mengingat lelaki satu ini akan membawa kenangan pada masa lalu yang suram. Suaranya mengingatkan pada deburan ombak di senja hari. Tatapan matanya laksana sungai yang tenang tapi menghayutkan. Bos Paman ini akhirnya mau tak mau bergabung dengan club ABJ karena takut tak punya teman.
14 Yang perlu dijelaskan dari lelakinya ini bahwa nasibnya sepahit namanya.
15 Lelaki ini ibarat buldoser, apa saja diterjang, termasuk kawannya sendiri. Hidupnya memang tak beranjak dari satu derita ke derita. Makanya ia bergabung dengan club yang berisikan orang-orang yang menderita karena tak dapat ceceran uang.
16 Murid dari almukarom BeG ini konsisten di jalur tani. Walaupun beberapa periode menjadi pepunden kaum tani tapi hidupnya belum secerah Arlo atau AA’ dari club ABJ.
17 Sebagai alumus Fakultas Filsafat maka jelas ia menambatkan pilihan pada club S3OR. Karena di club tersebut ada sahabat karibnya, Ki Mojo.
18 Tentang kenapa mojang Priangan ini bergabung dengan S3OR tentu tidak perlu dijelaskan.
19 Bergabungnya dengan S3OR juga tidak perlu dijelaskan.
20 Nasibnya memang sedikit tragis, istrinya pernah “dipakai” oleh Dorce. Karena berjiwa ustadz peristiwa itu ia lupakan walaupun masih mengganggu mimpi malamnya dan saat ia bersetubuh dengan istrinya.
21 Karena istrinya mau melahirkan ia kembali ke Jogja, dan sekarang setelah istrinya melahirkan untuk kedua kalinya ia tak pernah kembali lagi ke Jakarta. Kedekatan dengan pelatih S3OR FC membuat dirinya bergabung dengan club yang compang-camping ini.
22 Ia terpaksa jebol dari UGM karena terlalu asyik bermain bola. Dulunya sahabat akbrab AA”, tapi karena masalah “ideologi” maka sekarang harus berhadap-hadapan.
23 Buruh berkrah putih ini tak jelas riwayat hidupnya.
24 Inilah bintang di club S30R FC. Sudah hampir tujuh bulan ini sedang hamil genjik diperutnya. Nah, dia ini sama-sama seperti AA’, penderita oidipus complex. Jalan hidupnya memang berliku. Penghuni LP (Lembaga Perempuan) Sarkem ini telah bertualang ke mana-mana. Tak peduli siang dan malam ia akan mencari mangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar