Seingatku, di Seminari Menengah dahulu, aku pernah meminjam buku Existensial Metaphsychiatry karya Thomas Hora di perpustakaan Seminari St. Yohanes Berchmans Todabelu-Mataloko, tempatku menempuh study, untuk mengerjakan tugas bulanan yang diwajibkan Romo Prefek (Bapa Asrama di Seminari Menengah), Romo Benedictus Lalo, Pr. Tugasnya adalah meringkas minimal 5 buku setiap bulan.
Salah satu cerita yang kuingat dari buku itu, Hora menulis tentang seorang pemahat yang bekerja keras dengan palu di tangan, menggarap sebongkah batu marmer yang sangat besar. Seorang anak kecil berdiri di dekatnya sambil melihatnya bekerja. Sang anak tak melihat apapun selain pecahan-pecahan batu marmer yang meloncat ke kiri dan ke kanan. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Beberapa minggu kemudian, ketika sang anak kembali ke tempat yang sama, ia terkejut, karena melihat patung seekor singa duduk di tempat yang dulunya ia melihat sebongkah marmer. Dengan rasa penuh keheranan, anak itu berlari menemui pemahat itu, dan bertanya, “Bapak, bagaimana mungkin bapak tahu bahwa di dalam bongkahan marmer itu ada singa?”
Demikianlah, seni memahat adalah seni melihat. Dalam sebongkah marmer, seorang Mikhael Angelo melihat seorang ibu yang dengan penuh kasih (sayang) memangku puteranya yang sudah tak bernyawa. Muncullah patung Pieta yang terkenal itu. Kemampuan seni adalah kemampuan melihat, dan praksis adalah jalan untuk memperlihatkan yang dilihat itu.
Akulah sang anak dalam kisah itu. Aku suka mengagumi kisah-kisah hebat dari para pendahulu, mulai dari Dante Alighieri, Cicero, dan Lenin dari Eropa, Che Guevara dari Amerika (Latin), Nelson Mandela dari Afrika, serta Gandhi dan Soekarno dari Asia, dan masih banyak lagi orang-orang hebat yang kukagumi dan berulang-ulang kutelusuri hidupnya. Mereka adalah “pemahat-pemahat” di masanya. Mata mereka mampu melihat rintangan, kesulitan, maupun krisis sebagai hamparan peluang, sebagai titik lompatan menuju suatu bentuk yang lebih baik, lebih maju.
Dari kisah hidup mereka, seringkali heroisme-pun melandaku. Perpustakaan Seminari Menengah tempatku belajar, adalah salah satu perpustakaan terbesar di propinsi Nusa Tenggara Timur. Aku lahap semua kisah mitologi, epos-epos kuno, para penyair, hingga novel-novel cinta, di samping bacaan favoritku tentang kisah-kisah detektif, dan berbagai macam bacaan-bacaan lain yang disediakan perpustakaan itu.
Hingga kini, kisah yang paling membekas dalam diriku adalah kisah Troy. Dengan tokoh utama Paris. Hampir semua orang mengagumi sang pemberani, Achiles, putera Testis yang terkenal kebal itu, karena dimandikan di air ajaib pada masa kecilnya. Paris sendiri lahir sebagai putera raja, yang dititahkan harus dibuang (dibunuh) pada masa bayi karena diramalkan bakal membawa bencana. Dewa-dewa menghendaki lain, Paris tetap hidup, tumbuh-kembang di tengah hutan bersama binatang-binatang, alam raya adalah sahabatnya, sekaligus gurunya.
Pada suatu ketika, Juno, Minerva, dan Venus bertengkar tentang siapakah yang paling cantik di antara dewi-dewi Olympus. Lalu mereka bersepakat memberikan apel emas pada Paris, untuk menjadi juri penentuan dewi tercantik. Juno mengiminginya bakal menjadi manusia paling berkuasa di kaki Olympus, Minerva memberinya rayuan bakal menjadi manusia paling bijaksana, dan Venus menjanjikannya bakal memperisteri seorang wanita tercantik di dunia. Paris-pun memberikan apel emas itu pada Venus.
Matanya mungkin tak secemerlang para “pemahat” di atas, atau mungkin kekuatan dan kebijaksanaan telah ada padanya hingga ia berani memihak pada sang dewi cinta itu, yang artinya membangkitkan kemarahan Minerva dan Juno. Tetapi, pelajaran yang bisa dipetik adalah keteguhan hati dan konsistensi menjalani pilihannya dengan berani dan sadar, yang membuatku menjadikan Paris sebagai pahlawan masa remajaku. Ia berani membebaskan dan membawa Helena keluar dari kungkungan Menelaus, walaupun ia tahu Menelaus lebih kuat darinya, yang dilindungi Minerva dan Juno. Ia berani membayar dan menantang konsekuensi dari sebuah pilihan hidup.
Di akhir-akhir masa sekolahku di Seminari Menengah, secara samar-samar, aku membaca Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Arok seolah-olah memadukan Minerva, Juno, dan Venus dalam dirinya. Imajinasiku membayangkan keberanian dan kekeraskepalaan Paris berpadu dengan kecerdasan dan kecerdikan Arok yang luar biasa, maka Paris akan menjadikan Agamemnon sebagai Belakangka, Odiseus sebagai Gandring, Achiles sebagai Kebo Ijo, dan memperkuat Hector sebagai Tanca baginya, membangun dan menumbuhkembangkan kisah cintanya bersama Helena, sebagaimana Arok bersekutu dengan Dedes. Tetapi Paris lebih adil, tak seperti Arok yang menduakan Umang dan Dedes, yang tanpa sadar justru membangun basis-basis kehancuran anak cucu di masa depan.
Akulah anak kecil dalam kisah itu. Kali ini aku tak lagi terheran-heran atau termenung-menung. Aku telah mempunyai rencana, akan menggoreskan kisah. Menjadi Paris yang memadukan Minerva, Juno, dan Venus dengan kecerdasan dan kecerdikan seperti Arok, dan hidup dalam kejernian memandang bagai sang Pemahat.
---Dante Che, 14/11/2011
Salah satu cerita yang kuingat dari buku itu, Hora menulis tentang seorang pemahat yang bekerja keras dengan palu di tangan, menggarap sebongkah batu marmer yang sangat besar. Seorang anak kecil berdiri di dekatnya sambil melihatnya bekerja. Sang anak tak melihat apapun selain pecahan-pecahan batu marmer yang meloncat ke kiri dan ke kanan. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Beberapa minggu kemudian, ketika sang anak kembali ke tempat yang sama, ia terkejut, karena melihat patung seekor singa duduk di tempat yang dulunya ia melihat sebongkah marmer. Dengan rasa penuh keheranan, anak itu berlari menemui pemahat itu, dan bertanya, “Bapak, bagaimana mungkin bapak tahu bahwa di dalam bongkahan marmer itu ada singa?”
Demikianlah, seni memahat adalah seni melihat. Dalam sebongkah marmer, seorang Mikhael Angelo melihat seorang ibu yang dengan penuh kasih (sayang) memangku puteranya yang sudah tak bernyawa. Muncullah patung Pieta yang terkenal itu. Kemampuan seni adalah kemampuan melihat, dan praksis adalah jalan untuk memperlihatkan yang dilihat itu.
Akulah sang anak dalam kisah itu. Aku suka mengagumi kisah-kisah hebat dari para pendahulu, mulai dari Dante Alighieri, Cicero, dan Lenin dari Eropa, Che Guevara dari Amerika (Latin), Nelson Mandela dari Afrika, serta Gandhi dan Soekarno dari Asia, dan masih banyak lagi orang-orang hebat yang kukagumi dan berulang-ulang kutelusuri hidupnya. Mereka adalah “pemahat-pemahat” di masanya. Mata mereka mampu melihat rintangan, kesulitan, maupun krisis sebagai hamparan peluang, sebagai titik lompatan menuju suatu bentuk yang lebih baik, lebih maju.
Dari kisah hidup mereka, seringkali heroisme-pun melandaku. Perpustakaan Seminari Menengah tempatku belajar, adalah salah satu perpustakaan terbesar di propinsi Nusa Tenggara Timur. Aku lahap semua kisah mitologi, epos-epos kuno, para penyair, hingga novel-novel cinta, di samping bacaan favoritku tentang kisah-kisah detektif, dan berbagai macam bacaan-bacaan lain yang disediakan perpustakaan itu.
Hingga kini, kisah yang paling membekas dalam diriku adalah kisah Troy. Dengan tokoh utama Paris. Hampir semua orang mengagumi sang pemberani, Achiles, putera Testis yang terkenal kebal itu, karena dimandikan di air ajaib pada masa kecilnya. Paris sendiri lahir sebagai putera raja, yang dititahkan harus dibuang (dibunuh) pada masa bayi karena diramalkan bakal membawa bencana. Dewa-dewa menghendaki lain, Paris tetap hidup, tumbuh-kembang di tengah hutan bersama binatang-binatang, alam raya adalah sahabatnya, sekaligus gurunya.
Pada suatu ketika, Juno, Minerva, dan Venus bertengkar tentang siapakah yang paling cantik di antara dewi-dewi Olympus. Lalu mereka bersepakat memberikan apel emas pada Paris, untuk menjadi juri penentuan dewi tercantik. Juno mengiminginya bakal menjadi manusia paling berkuasa di kaki Olympus, Minerva memberinya rayuan bakal menjadi manusia paling bijaksana, dan Venus menjanjikannya bakal memperisteri seorang wanita tercantik di dunia. Paris-pun memberikan apel emas itu pada Venus.
Matanya mungkin tak secemerlang para “pemahat” di atas, atau mungkin kekuatan dan kebijaksanaan telah ada padanya hingga ia berani memihak pada sang dewi cinta itu, yang artinya membangkitkan kemarahan Minerva dan Juno. Tetapi, pelajaran yang bisa dipetik adalah keteguhan hati dan konsistensi menjalani pilihannya dengan berani dan sadar, yang membuatku menjadikan Paris sebagai pahlawan masa remajaku. Ia berani membebaskan dan membawa Helena keluar dari kungkungan Menelaus, walaupun ia tahu Menelaus lebih kuat darinya, yang dilindungi Minerva dan Juno. Ia berani membayar dan menantang konsekuensi dari sebuah pilihan hidup.
Di akhir-akhir masa sekolahku di Seminari Menengah, secara samar-samar, aku membaca Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Arok seolah-olah memadukan Minerva, Juno, dan Venus dalam dirinya. Imajinasiku membayangkan keberanian dan kekeraskepalaan Paris berpadu dengan kecerdasan dan kecerdikan Arok yang luar biasa, maka Paris akan menjadikan Agamemnon sebagai Belakangka, Odiseus sebagai Gandring, Achiles sebagai Kebo Ijo, dan memperkuat Hector sebagai Tanca baginya, membangun dan menumbuhkembangkan kisah cintanya bersama Helena, sebagaimana Arok bersekutu dengan Dedes. Tetapi Paris lebih adil, tak seperti Arok yang menduakan Umang dan Dedes, yang tanpa sadar justru membangun basis-basis kehancuran anak cucu di masa depan.
Akulah anak kecil dalam kisah itu. Kali ini aku tak lagi terheran-heran atau termenung-menung. Aku telah mempunyai rencana, akan menggoreskan kisah. Menjadi Paris yang memadukan Minerva, Juno, dan Venus dengan kecerdasan dan kecerdikan seperti Arok, dan hidup dalam kejernian memandang bagai sang Pemahat.
---Dante Che, 14/11/2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar