Kamis, 17 November 2011

Buat Sahabat Sejati dan Tuhan! (Imajinasi Menulis Iseng)

Sudah seminggu ini, aku mendadak rutin ke Gua Maria, setiap malam menjelang dini hari. Bukan untuk memperoleh kesucian diri, bukan! Apalagi, waktu-waktu sebelumnya hampir-hampir tak pernah ke sana, selain hari Minggu.
Aku lahir dari keluarga Katholik taat, dan tumbuh di tengah lingkungan Katholik yang kental, di pulau Flores, pulau yang mendapat julukan tak resmi sebagai "Vatikan Kedua", karena populasi Katholiknya yang hampir 100 % dan pencetak biarawan/i terbesar di dunia.

Pendidikan dasar kumulai dari sekolah dasar Katholik, walau akhirnya harus diselesaikan di sekolah dasar inpres. Pendidikan menengah pertama dan menengah atas pun kuhabiskan di seminari menengah, sebuah kawah  candradimuka, persemaian calon-calon Imam/Pastor yang siap diutus sebagai Misionaris ke segala penjuru dunia. Sejak usia 11-16 tahun, ku merelakan diri "dikarantina" di salah satu sekolah paling prestisius di Propinsi Nusa Tenggara Timur ini. Setahun hanya diberi 2 kali kesempatan bertemu dengan keluarga. Digembleng mandiri dan taat beragama. Hingga kini, aku tak yakin, apakah aku taat beragama atau tidak. Rutinitasku ke Gereja semata-mata mencari keheningan dan bertemu dengan sesama. Baru sesederhana itu kucoba terjemahkan bejibun dogma tentang agama dan Gereja.

Bermodalkan pengalaman itu, pada usia 17 tahun, aku memutuskan datang ke tanah Jawa. Aku memilih Surabaya, kota idolaku sejak aku mulai dengar kisah sejarah bangsa. Sejak zaman purba, penjajahan, dan zaman bergerak; Surabaya selalu menawarkan tantangan dan senantiasa menyuguhkan kisah-kisah kepahlawanan. Aku datang dengan cita-cita tinggi, sangat tinggi untuk ukuran pemuda pelosok negeri, sepertiku. Tak tanggung-tanggung, aku ingin menjadi pengacara beken sekaligus dosen. Karena keduanya bakal membuatku tetap menjadi manusia bebas, tanpa tersandera berbagai kepentingan pragmatis pihak lain. Yah, hidup harus punya-punya cita, agar tak mudah terseret-seret arus kehidupan. Kira-kira begitulah nasihat sahabat terbaikku sejak kecil, yang tak lain adalah Opa-ku.

Perihal cita-cita, untuk diketahui, pada tahun 1999, tepatnya tanggal 17 april, kalender di rumahku menampilkan kata-kata mutiara dari Bung Karno, "Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit". Itu hari ulang tahunku, dan kata-kata itu membekas dalam diriku hingga ku beranjak menjadi pemuda. Ketika membaca kata-kata itu, dengan keluguan seorang anak kecil, aku sontak mengatakan ingin menjadi seorang Uskup. Karena beberapa waktu sebelumnya, Mgr. Donatus Djagom SVD, Uskup keuskupan Agung Ende berkunjung ke paroki tempat kami tinggal, Paroki Hati Yesus Hati Maria Boanio. Aku melihat, semua umat juga pastor-pastor mencium tangannya dengan penuh hormat dan bangga. Kepolosan seorang anak kecil merekamnya.

Kala itu krisis ekonomi baru melanda seluruh pelosok negeri, perekonomian keluarga makin mebaik. Ibuku menanggapi cita-citaku dengan nada guyon ketika itu, "Kalau kau jadi Uskup, Wololele(bukan gunung berapi) bisa meletus". (Di kemudian hari, ketika aku berhasil menjadi seminaris, aku mengingatkan kembali mereka semua akan obrolan lama ini. Walau mungkin tak jadi Usup, tapi paling tidak, aku pernah berada di jalurnya). Tapi Ayahku yang selalu optimis dan tenang di segala situasi itu mengatakan bahwa tak ada yang tak mungkin. "Di atas langit masih ada langit, yang penting rajin belajar, pasti bisa lolos masuk seminari nanti". Ya, selain biayanya yang mahal, seminari dengan ketat "menuntut" kecerdasan dan budi yang perfect.

Kalau "hanya" sekedar urusan membaca dan menulis, menurutku, aku kayaknya tak kalah dengan anak-anak yang lain. Sejak usia 5 tahun, aku sudah bisa menuliskan huruf tali, dilatih oleh Ibuku yang dengan sabar mengulang-ulang 2 kata yang menjadi mantera belajar huruf tali, "naik halus turun kasar, naik halus turun kasar, dst". Di usia 5 tahun itu pula, aku sudah mulai bisa membaca dan mempersoalkan huruf "ɑ" yang sering kutulis, berbeda dengan huruf "a" yang ada di koran-koran atau buku-buku. Usia 6 tahun aku telah mempunyai New Testament sendiri, walau masih berbentuk Kitab Suci Anak-Anak, dan di usia 7 tahun aku telah berlangganan "Kunang-Kunang", majalah anak-anak yang sangat terkenal di daratan pulau Flores (mungkin juga NTT) ketika itu. Namun, itu semua tak serta merta membuatku menjadi taat beragama atau sangat beriman.

Hamparan latar belakang di atas, bukanlah faktor yang membuatku rajin ke Gua maria yang sudah berlangsung seminggu ini. Aku bahkan, tak jarang, sering menyangsikan adanya Tuhan. Aku selalu yakin dengan diriku sendiri, pada pikiranku sendiri. Tak pernah mau terlihat lemah di hadapan siapapun. Hingga sampailah akhir Oktober kemarin, Opa-ku yang adalah sahabat terbaikku sejak kecil itu, pergi menghadap sang khalik, pergi dari dunia bersatu dengan alam semesta. Aku tak bisa datang ke pemakamannya, dan sungguh menyisakan kegetiran yang luar biasa. Aku sungguh merasa kehilangan.

Akan tetapi, belum selesai kubereskan puing-puing kesedihan, datang sahabat sejati berharap memohon pamit. Itu sungguh tak menyenangkan, dan sangat menguras energi. Aku lelah, lelah, selelah-lelahnya. Bahkan mungkin juga sakit jiwa, karena beberapa kali hampir membulatkan tekad mengakhiri hidup ini. Sesuatu yang sangat dilarang dan dikatakan dosa besar, begitulah rekaman dogma yang masih terekam. Tetapi aku tak peduli dengan larangan ataupun dosa, sama sekali tak peduli. Kegelisahanku hanyalah bahwa aku belum lama hidup, belum pula menerjemahkan berbagai "cetak biru" di otakku ke dalam sesuatu yang nyata.

"Aku ingin pulang, aku lelah", begitu kataku pada Ibu-Bapak. Gurat-gurat ketuaan menyimpan kebijaksaan di sana atau mungkin mereka sudah rindu karena telah sekian tahun aku belum kembali, mereka dengan tenang menyanggupi permintaanku. Diceklah harga ticket pesawat Surabaya-Kupang-Ende, kurang lebih sekitar satu juta empat ratusan. Tetapi aku menjadi ragu untuk pulang, karena memang tak ada keperluan. Lagipula, harga ticket itu bisa kupakai buat beli HP BB, bukan? Begitulah, kala konsumtif, matematis, dan narsis bergumul. Ntahlah, mula-mula Jack Daniels, Vodka, dan jenis alkoholic lainnya yang dipakai tuk coba menemani malam-malamku. Lama kelamaan, itu tak mempan. Kegelisahan tetap menyergapku. Kala mengobati rasa rindu pada sahabat sejati, tak sengaja kulihat foto Gua Maria di folder HP-ku, yang pernah kurekam.

Jadilah rutinitasku kini, setiap malam menjelang dini hari, aku sendirian bersama patung Maria dan St. Antonius dari Padua, ditemani api lilin yang bercinta dengan angin malam. Biasanya tak lama aku berdoa, (mungkin) pula tak berdoa. Karena kala berdoa, selalu merasa ditelanjangi Tuhan. Toh, setiap apa yang ingin atau akan kita katakan telah diketahui semua oleh-Nya. Lalu, untuk apa kita ucapkan lagi, -memenuhi kewajiban sebagai wayang agar sesuai dengan naskah sutradara kah? Aku membutuhkan dialog, bukan hanya sekedar ucapan syukur dan permohonan yang keluar dari mulutku dan didengar sendiri oleh telingaku.

Namun, tak ada yang berdialog denganku di sana. Atau mungkin, hati dan pikiranku terlalu kafir dan tak pantas merasakan kehadiran atau mendengar suara dalam keheningan, karena sejauh yang kudengar, cuma gemericik air jualah yang bersuara. Engkau tak hadir di Gua, mungkinkah Tuhan sedang bersembunyi di facebook, menggunakan akun palsu dan berteman denganku, - maka bacalah pesanku ini Tuhan; 
"Aku lelah Tuhan. Kau telah ambil satu sahabat terbaikku tuk berpulang ke hadiratmu. Kini kembalikanlah sahabat sejatiku, jangan buat apinya padam atau ambillah nyawaku!"

******* 


Dante Che, 16/11/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar