Kamis, 17 November 2011

Ekaristi dan Hidup (Renungan Untuk Diriku Sendiri)

Moliere dalam karyanya yang berjudul Le Misanthrope mengisahkan kebencian seorang tokoh, Alceste, terhadap apa yang disebut “kemunafikan”. Saking radikalnya Alceste, sampai-sampai ia memutuskan untuk hengkang dari dunia, yang olehnya dipandang sebagai “tempat penuh kemunafikan”. Ekstrim! Itulah yang dikisahkan Moliere.

Le Misanthrope, ternyata mengharuskan kita untuk bermenung sedikit banyak tentang ziarah kita dalam kenyataan eksistensial terhadap Ekaristi. Tentang kemunafikan yang kini merasuk dalam diri kita dan menjadi sesuatu yang esensial bagi orang-orang beriman. Kemunafikan dalam Ekaristi menjalar sedemikian rupa sehingga perayaan yang menjadi puncak hidup kita yang sebenarnya ini menjadi tidak bermakna lagi. Ia menjadi hanya sekedar warisan ritual seremonial belaka tanpa praksis-praksis nyata dalam kehidupan berkomunitas. Kemunafikan dengan perlahan tetapi pasti mendapat tempat non formal yang utuh dalam tata perayaan Ekaristi.

Dalam penampilan kita yang “sok” alim dan “kalem”, -dalam wajah-wajah polos nan lugu (ngantuk?) manakala merayakan Ekaristi. Belum lagi lagu yang di’ombeng-ombeng’, plus pikiran yang melayang-layang, yang menghantar kita untuk melanjutkan aktivitas tidur, sesungguhnya menunjukkan bahwa kita telah munafik. Rupanya prinsip-prinsip komunalitas telah meredam keseriusan dan keaktifan kita dalam merayakan Ekaristi, apalagi mengamalkannya. Karena, pada hakekatnya,  Ekaristi yang kita rayakan sebagai perayaan memang diadakan untuk menambah rasa hormat dan syukur kepada sang Pencipta (alam semesta) secara pribadi, walaupun dalam pelaksanaannya dirayakan secara bersama-sama. Namun, di sinilah kita dihadapkan pada ketimpangan hidup yang dihamparkan realitas obyektif, dan menuntut peran kritis profetis Ekaristi untuk menjawabnya.

Kita mesti sadar (bukan karena terpaksa) bahwa Ekaristi adalah perjamuan yang meneguhkan,- yang membawa banyak makna buat kita. Kita mesti terima (tidak karena takut) bahwa Ekaristi selalu penting bagi ziarah hidup kita. Kita hadir (bukan?) atas sebuah keterpaksaan. Kita hadir, karena iman kita; karena sikap “menerima” yang harus (terpaksa?) ada di dalam hati. Dalam ekaristi tidak dibutuhkan sikap hormat yang bergetar, yang takjub. Cukuplah kalau kita sadar bahwa Ekaristi  dihidupkan oleh kita dan Ekaristi membawa sebuah katarsis secara personal. Ada sesuatu yang butuh untuk dipenuhi, diisi, dan diperbaharui dalam hati kita. Lalu apa?

Akankah kita memilih menjadi seperti Alceste yang harus melarikan diri dari bumi dan tidak berani menatap(menjawab) realitas obyektif yang ada? Ataukah kita dengan besar hati berani menatap kesalahan kita, mengakuinya lalu merubahnya? Dalam keberanian, kita mesti sadar bahwa Ekaristi bukan sekedar cahaya lilin, bukan sekedar nyanyian, atau ledakan emosi, lebih lagi; bukan sekedar ritus turun temurun. Akan tetapi sebuah getaran kedalaman batin yang mengharapkan kehadiran “Sang Ada”.

Seorang Pastor, tokoh sandiwara Henrik Ibsen, pernah dengan putus asa berteriak ke arah langit, “jika tidak dengan kemauan, bagaimana manusia bisa ditebus?” dan dari langit datang suara, “Tuhan Maharahim, Tuhan Maharahim!

Selamat ber-Gereja bagi yang ke Gereja, selamat berhari Minggu untuk semua!


---Dante Che, 13/11/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar