Kamis, 17 November 2011

Catatan dari Aksi Peringatan 83 Tahun Sumpah Pemuda di Grahadi-Surabaya (28/10/2011)

Sekitar pkl. 13.15 WIB, massa aksi PPRI (Persatuan Pergerakan Rakyat Indonesia) mulai berkumpul semuanya di Monumen Kapal Selam (Monkasel), yang disepakati sebagai lokasi polling aksi. Begitu pula kawan-kawan APB (Aliansi Perjuangan Buruh) dari Mojokerto yang datang bersolidaritas dalam aksi ini, sambil menunggu kedatangan kawan-kawan lainnya yang masih dalam perjalanan.  Sekitar pukul 13.30, Korlap (Koordinator Lapangan) dan Wakorlap (Wakil Koordinator Lapangan) mulai memberikan aba-aba persiapan kepada massa aksi PPRI dan APB. Yang bertindak sebagai Korlap adalah Hancel 'Che' dari organ PEMBEBASAN, dan Iwan Dharmawan dari organ KAMUS PR sebagai Wakorlap. Aksi ini juga dipimpin oleh Herry Subagyo, koordinator dari APB.

Berdiri paling depan adalah pemegang boneka (replika) pocong yang ditempelkan wajah SBY. Barisan pertama massa aksi diisi oleh kawan-kawan pemegang spanduk bertuliskan, "Hentikan Neoliberalisme, Turunkan SBY-Boediono!"Lima langkah di belakang spanduk, diisi oleh kawan-kawan perempuan, kawan-kawan pemegang bendera, dan kawan-kawan pemegang poster yang berisi tuntutan, antara lain; "Dukung Papua Sebagai Bangsa Yang Bermartabat", "Nasionalisasi Aset-Aset Asing Di Bawah Kontrol Rakyat", "Cabut Undang-Undang Kepemudaan", "Perempuan Keluar Rumah, Bangun Organisasi dan Pergerakan untuk Kesetaraan dan Kesejahteraan", "Cabut Undang-Undang Penanaman Modal Asing", "Musuh Rakyat; Imperialisme, Pemerintahan Boneka Imperialisme(SBY-Boediono), Sisa-Sisa Orde Baru, Reformis Gadungan, dan Milisi Sipil Reaksioner", dan masih banyak lagi poster lainnya. Barisan selanjutnya diisi oleh massa aksi yang dengan sangat bersemangat menantang terik panasnya Surabaya dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan meneriakan yel-yel perlawanan.

Aksi dimulai dengan pekik Sumpah Rakyat Indonesia yang dipandu oleh Wakorlap, dan selanjutnya yel-yel yang dipandu oleh kawan Herry. Sekitar pkl. 13.35, massa aksi mulai bergerak ke arah titik aksi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Rally menuju Grahadi diisi dengan orasi-orasi, lagu-lagu perjuangan, yel-yel, yang makin semarak dengan atraksi-atraksi dari kawan Kariono Penceng dan Ferdy, yang berjingkrak-jingkrak membakar semangat massa aksi, yang dengan riang gembira bergerak maju. Aksi yang sangat bersemangat dan menghibur ini, sama sekali tak menunjukkan kesan subversif atau makar. Sebaliknya, pihak kepolisian mengawal ketat massa aksi mulai dari Monkasel, pun ketika di perempatan air mancur, saat Korlap mengatur kembali barisan, karena akan segera memasuki lokasi aksi, Grahadi.  Kepolisian telah ratusan (mungkin) ribuan personel polisi, Brimob, Polisi Anti Huru-Hara, Water Canon, Gas Air Mata, Mobil Pengangkut Kawat Berduri, dll.  Surabaya dalam keadaan, seolah-olah siap perang.

PPRI dan APB, paling awal memasuki lokasi aksi, sekitar pkl 14.00, yang langsung disambut dengan kepungan Polisi Anti Huru Hara. Sekali lagi Iwan memandu pekik ikrar Sumpah Rakyat Indonesia dan Herry membakar semangat massa aksi dengan yel-yel SBY-Boediono agen Imperialis, dan nyanyian-nyanyian perlawanan yang dipimpin Penceng. Hancel menjelaskan bahwa SBY-Boediono dan elit-elit yang saat ini membagi-bagikan roti kekuasaan sudah cacat sejak kemunculannya, karena sama-sama menghamba kepada modal asing dan korporasi-korporasi multinasional, seperti freeport, newmont, exxon mobile, dll. Lalu dilanjutkan dengan merapikan dan merapatkan kembali barisan, dan selanjutnya, pada kesempatan pertama, Korlap mempersilahkan perwakilan dari APB untuk menyampaikan orasi politiknya.

Dalam orasinya, perwakilan dari APB menilai bahwa rezim pemerintahan SBY-Boediono adalah rezim yang sangat berpihak pada kebijakan asing, menjual aset-aset nasional pada asing, penggusuran, represifitas-militeristik, pelanggaran HAM di Papua dan daerah-daerah lain, yang kesemuanya bermuara pada satu kesimpulan bahwa SBY-Boediono telah gagal mensejahterakan rakyat, sehingga harus turun dari jabatannya, juga elit-elit yang ada saat ini, kita tak boleh meletakan harapan pada mereka, karena sama seperti SBY, elit-elit ini juga patuh dan tunduk pada kebijakan asing. Setelah orasi dari APB, pihak kepolisian meminta massa aksi mundur 5 langkah, agar menghindari kemacetan. Korlap menyanggupinya, dengan menyerukan pada massa aksi untuk mundur 5 langkah, tetapi polisi tetap mengepung massa aksi dengan jarak tak sampai selangkah.

Selanjutnya, Korlap memberikan kesempatan orasi kepada perwakilan dari mahasiswa universitas 45, kawan Ferdy. Dalam orasinya, Ferdy menyatakan bahwa SBY-Boediono telah gagal dan tak ada alasan untuk tak diturunkan. Dengan gaya khasnya sepanjang aksi, sambil meloncat-loncat, dia memimpin yel-yel "SBY turun, SBY turun", agar peserta aksi tetap semangat. Sebelum menutup orasinya, dia mengatakan bahwa; "kita tak boleh mundur, kita harus maju, tak boleh takut dengan anjing-anjing penjaga modal".

Saat itu, belum ada komite aksi lain yang memasuki Grahadi, dan di sisi lain, polisi terus merangsek maju. Untuk menghindari bentrokan dengan aparat, Korlap menyerukan pada massa aksi untuk mundur selangkah, dan polisipun maju selangkah ke arah massa aksi. Hingga kemudian, sekali lagi Korlap menyerukan untuk mundur selangkah lagi, yang artinya massa aksi telah mundur sampai trotoar, tetapi polisi terus maju dan bahkan merampas boneka (replika) pocong bergambar SBY, yang memantik kemarahan massa aksi, sehingga terjadilah bentrokan dengan polisi. Saat itu Korlap sempat menyerukan pada Ibu Kasat untuk menyuruh pasukannya mundur, agar penyampaian aspirasi-aspirasi bisa kembali dilanjutkan. Massa aksi yang pada dasarnya tak anarkis, kembali tenang setalh polisi kembali mundur, dan melanjutkan kembali orasi-orasi secara bergantian.

Kawan Kojex dari FPK (Front Pemuda Kerakyatan) Madiun menjelaskan tentang gagalnya sistem kapitalisme yang dianut oleh rezim SBY-Boediono, gagalnya SBY-Boediono dan elit-elit politik dalam memimpin bangsa ini, dan pentingnya persatuan rakyat,  juga mekanisme persuasif dan regulasi-regulasi yang harusnya dimengerti dan ditaati oleh aparat kepolisian dalam mengawal aksi penyampaian aspirasi dan kebebasan berpendapat di muka umum.
Perwakilan LDF IAIN juga menilai rezim SBY-Boediono harus turun dari kekuasaannya, karena telah terbukti gagal melindungi rakyat. Sedangkan perwakilan dari HMI menilai bahwa SBY-Boediono dan aparat militer tak berani melawan dominasi asing, dan hanya berani melawan rakyatnya sendiri.
Arsil Apal, perwakilan dari GMPU (Gerakan Mahasiswa Peduli UWKS), menyatakan bahwa rezim SBY-Boediono tak ubahnya dengan rezim orde baru Soeharto yang suka menembaki rakyatnya sendiri, seperti penembakan buruh di freeport, dan di daerah-daerah lainnya.

Stefany, dari Perempuan Mahardhika menjelaskan bahwa SBY-Boediono adalah pelayan setia modal asing, yang tunduk pada sistem kapitalisme-neoliberal, SBY-Boediono adalah rezim yang tidak berpihak pada rakyat miskin dan kaum perempuan. Selanjutnya Fendy, perwakilan dari PEMBEBASAN, mencatat ada 32 kegagalan rezim SBY-Boediono, di antaranya; tak bisa melindungi sumber daya alam Indonesia, masih setia pada sistem kapitalisme, dll, sehingga SBY-Boediono harus turun dari kekuasaannya, dan persatuan rakyatlah yang harus mengambilalih kekuasaan itu, bukan elit-elit pengabdi modal asing itu.

Penceng, perwakilan SeBUMI, mengatakan bahwa SBY-Boediono dan elit-elit yang berada di balik gedung-gedung kekuasaan itu tak bisa kita harapakan. "Mereka adalah anjing tai kuda", begitu teriaknya lantang, yang langsung disambut dengan teriakan bersemangat massa aksi, "Hidup Penceng, Turunkan SBY-Boediono!"Tidak lupa Penceng menambahakan bahwa Pakde Karwo (Gubernur Jatim,- Red),  juga harus turun dari jabatannya, karena suka melakukan penggusuran dan penggarukan, serta tak mampu menyelesaikan kasus Lapindo Sidoarjo.Perwakilan dari PMII pun mengamini bahwa selain SBY-Boediono yang menjadi musuh rakyat Indonesia, musuh rakyat rakyat Jawa Timur pada khususnya adalah Pakde Karwo. "Musuh nomor 1 adalah SBY, dan Pakde Karwo adalah musuh nomor 2", tegasnya.
Dalam orasi selanjutnya, perwakilan dari HMI juga mendukung tuntutan mundurnya SBY-Boediono yang dinilai sudah gagal mengemban amanah rakyat.

Saat itu, beberapa komite aksi lain mulai memasuki lokasi Grahadi, dan mereka mengambil tempat di as jalan. Hal ini membuat massa aksi mempertanyakan kebijakan polisi yang dianggap diskriminatif. Korlap pun menyiasati hal ini dengan mengatur ulang barisan yang telah berada di trotoar, dan memindahkan barisan kembali ke as jalan, tepat di samping massa aksi dari BEM, dan melanjutkan dengan teatrikal menginjak-injak dan meludahi foto SBY, sebagai simbol tak adanya kedaulatan, mudah diatur-atur,  dan dijajah oleh kebijakan-kebijakan asing. Sampai dengan saat itu, polisi masih tenang-tenang saja, dan bahkan terlihat kalau beberapa di antara mereka sebenarnya menikmati rangkaian aksi ini. Bahkan seorang polisi sempat berbisik pada Korlap, "ah, kamu itu serius amat". Si polisi ini, belakangan baru diketahui ternyata bernama Endi K. Dan dilanjutkan dengan orasi politik dari perwakilan BEM UNTAG, yang menjelaskan bahwa selama ada penindasan, maka selama itu pula kita akan terus meuntut tirani siapapun dia, untuk turun dari kekuasaannya. "SBY-Boediono harus turun dari jabatannya", begitu pekiknya mengakhiri orasinya.

Situasi berubah ketika massa aksi dari BEM, yang barisannya tepat di samping barisan massa aksi PPRI dan APB, membakar foto SBY-Boediono, yang kemudian direspon polisi dengan pentungan dan gas air mata yang membuat semua barisan  kocar-kacir. Setelah gas air mata mulai reda, polisi justru memprovokasi massa aksi PPRI dan APB yang saat itu sedang mendengarkan orasi politik dari perwakilan KAMUS PR. Tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba Coki Manurung (Kapolrestabes) memberikan aba-aba penyerangan terhadap massa aksi PPRI dan APB, yang kemudian polisi mengejar dan mengepung massa aksi PPRI dan APB di taman Apsari. Kebrutalan aparat tersebut, mengakibatkan Okky Navianto, mengalami patah tulang rusuk, yang ternyata penendangnya adalah aparat bernama Endi K, dan 4 kawan lainnya luka-luka. Ketika massa aksi hendak membawa kawan-kawan yang cedera, Polisi Anti Huru-Hara dan Brimob justru menghalang-halangi, dan bahkan berusaha "mengamankan" (menangkap) massa aksi, serta merebut poster-poster dan spanduk yang berisi tuntutan aksi.

Dalam kepungan aparat di taman Apsari, PPRI dan APB mengadakan konferensi pers. Kepada wartawan, Harrys dari PPRI dengan lantang mengatakan bahwa represifitas aparat ini semakin membuktikan bahwa SBY-Boediono adalah orde baru jilid 2. "Tak berani melawan Malaysia yang mencaplok wilayah Indonesia, hanya berani melawan rakyatnya sendiri", begitu katanya, sambil menunjuk ke arah Brimob dan Polisi Anti Huru-Hara.Sedangkan Siswanto dari APB, dengan tegas mengutuk cara-cara militerisme rezim kapitalis SBY-Boediono. "Penyampaian pendapat di muka umum, itu sudah diatur di dalam undang-undang. Polisi harus persuasif", tandasnya.Hasil rapat singkat di taman Apsari, massa aksi sepakat untuk menjenguk kawan-kawan yang dirawat di RSUD dr. Soetomo, melakukan konferensi pers, dan berencana ke Polrestabes untuk menuntut pertanggungjawaban. Setelah itu, massa aksi membubarkan diri setelah sekali lagi mengikrarkan Sumpah Rakyat Indonesia;

kami rakyat Indonesia, mengaku bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan, 
kami rakyat Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan,
kami rakyat Indonesia, mengaku berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan!


Dante Che, 29/10/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar