Kau adalah api
Baramu terhempas tersembunyi
di kedalaman kerak bumi
Tersungkur, terjungkal kau mencari
Hingga lupa kalau ada matahari,
yang setia tegak berdiri,
Sejak pagi hingga senja hari
Ada tanya dalam diri
Matahari yang membuatmu jadi,
ataukah engkau pengkokoh sang mentari
Hingga sampailah pada awal musim itu,
masa awal januari
***
Aku adalah angin kecil, bayu
Mega-mega di angkasa adalah sahabatku
Kalau besar dan tak terkendali, bisa mencemarkan segala sesuatu
Tapi bukan itu yang kutuju
Aku belajar mengepalkan tinju
Ketika aku bertemu kau,
kala itu,
Baramu hampir menjadi abu
Sepoi-seoi ku meniupmu
Perlahan-lahan merah baramu
Menghajar gosong abumu
***
Lalu kita sadar tentang kekuatan kita
Angin kecil dan api yang masih sebesar bara
Kelak bisa menantang keangkuhan langit, suatu ketika
Kembali mendudukan matahari sebagai pusat tata surya
dan bumi sebagai habitat segala makhluk sebagaimana sedia kala
***
Kita memandangi laut lepas
Di sinilah bumi dan langit tak berbatas
Melalui laut, jalan kita retas
Laut dingin dan luas
Aku meniupmu agar tetap panas
dan kau membuatku tak kedinginan lemas
Kita menjalaninya dengan kasih yang saling berbalas
Tak ada kepalsuan, tulus ikhlas
Bulat tekad, kebatilan kan kita tebas
***
Kita telah melihat langit, angkuh nian
Kini pasir pantai mencium sampan
Kayuhmu telah menjadi patahan
Yang menjadi saksi arus laut, penumbuh kehidupan
di atasnya kita menimba pengalaman
kita sudah petik banyak pelajaran
***
Kini, kita memang harus turun
di bumilah kekuatan kan dihimpun
***
Gunung yang kekar,
yang pernah menghempaskanmu ke bumi luar
Kini mungkin memandangmu nanar
Baramu, kini telah mulai berpijar
Aku-pun bukan lagi angin kecil yang mencemar
Beberapa kali kau tatar,
aku telah banyak belajar
Aku kini makin besar
Tapi tanpa alasan, kau berniat membuatku liar
Kau mengusirku dengan gencar
Kau menganggapku hanya pantas di semak belukar
Traumamu pada bumi, seolah membuatmu lupa avatar
***
Tanpamu, aku bakal pelan-pelan terkulai
Tanpaku, baramu-pun bakal mati
Persekongkolan kita harus tetap berseri
Persekutuan kita harus punya rasa percaya diri
Ini bukan hanya sekedar kesetian pada janji,
atau pemaksaan kehendak diri,
tapi masa depan dan harga diri
Angin dan Api di bumi
***
Buatmu Api,
dari Angin yang selalu menanti!
***
DC, 15/11/2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar