Bagian 1
Jum’at, 7 Januari 2011
Jum’at kedua di tahun ini, kita pertama kali bersua, disaksikan si anak yang me’malak’mu. Kau memberiku buku dan roti donat, aku memberimu sebotol aqua, kau berbaju merah dan aku memakai baju putih, dan kita sama-sama mengenakan celana berwarna gelap kala itu. Dua insan penyuka buku, kau memberikan makanan dan aku memberikanmu minuman. Warna baju yang tak di-setting sebelumnya, seolah-olah memindahkan tiang bendera ke depan kampusku, berkibar-kibar disaksikan anak jalanan malang itu. Kita tak banyak bicara ketika itu, kau malu-malu, dan jujur aku agak gugup, seolah belum yakin kalau perempuan yang selama ini berdiskusi, berdebat, dan saling menukar cerita ini, kini tegak berdiri di hadapanku. Aku mendadak lupa kalau sebelumnya kau mengirimkan pesan singkat perihal adanya pentol yang kelihatannya patut dicoba dan kita bisa duduk-duduk di situ.
Tak seperti di dunia maya, aku tak banyak bicara ketika kau pamit untuk mengecek persiapan acara di tempat kerjamu, dan aku seolah-olah cuek, masuk ke dalam gerbang kampus. Namun belum pernah kuberitahu padamu sebelumnya, ketika si Merah-mu menderu meninggalkan kampusku, aku berlari-lari keluar, berdiri dan menatapmu sampai kau membelok di pertigaan jalan. Saat itulah bercampur-campur perasaanku. Antara senang, ragu, cemas, dan menyesal menjadi satu. Aku senang karena bersua denganmu, perempuan yang selama ini berkawan denganku dalam ruang imajinasi. Kini kau nyata, aku senang. Tetapi kemudian aku menjadi cemas, apakah kau juga senang ketika bertemu aku? Hingga membuatku ragu untuk mengirimkan sms padamu, walau hanya sekedar sms terima kasih dan hati-hati di jalan. Aku menjadi sangat menyesal, kenapa tadi tak mengajakmu duduk-duduk minum atau hanya sekedar sedikit bercakap-cakap .
Aku sudah hendak mengirimkan sms untukmu, ketika ada pesan masuk, “apakah kau kecewa telah bertemu aku?” Aku langsung membalasnya, “tak ada sedikitpun rasa kecewa, malah aku sangat senang dan bersyukur”. Kau Cuma membalas, ‘^_^’, yang kemudian kutanggapi dengan, ‘Oklah’. Tanda ‘^_^’ telah kita sepakati sebagai Demy’s style, dan kata ‘Oklah’ sebagai Usthon’s style. Kau bertanya padaku, “ tak apa-apa kah kalau aku datang lagi?” Yang kubalas, “setiap hari datang malah lebih bagus.” Kau cuma mengatakan, “semoga Jum’at depan dunia belum kiamat”, dan aku dengan pede bilang,"Juma’at depan, depan, dan depannya lagi, dstnya, dunia belumlah kiamat selama kita masih bersama ^_^”.
Itulah perjumpaan pertama kita, setelah sebelumnya kita saling berkenalan lewat dunia maya. Kita bertukaran nomor kontak, saling berbalas pesan. Apapun yang aku alami atau rasakan, aku ceritakan padamu, begitu juga sebaliknya. Kita menjadi akrab, walau belum pernah bertemu. Semua hal kita jadikan sebagai bahan diskusi, dan hari-hari kita diisi dengan debat tentang apa saja. Kita seolah-olah berbeda pendapat, padahal kita sama-sama saling mengagumi. Kau mengagumi kecerdasan dan kekeras-kepalaanku, sedangkan aku mengagumi kebaikan budimu, kecerdasan, dan kecantikanmu yang berseri. Di atas semua itu, kita saling menghormati dan menghargai sebagai manusia. Kita sama-sama mencintai kesetaraan dan kebebasan. Kita sama-sama anti terhadap tirani, sinis, dan cenderung menertawakannya dalam obrolan-obrolan kita.
Kau perempuan aristokrat dari kalangan kelas atas, sedangkan aku borjuis kecil berlatar belakang kelas feodal di salah satu kota kecil di negeri kepulauan ini. Kita bersepakat untuk membuka batas yang mengungkung kita, kita menjadi kawan yang sama sekali tak peduli pada konstruksi sosial turun temurun. Perkawanan kita sungguh merdeka, hingga akhirnya berlanjut pada saling membutuhkan. Entah itu, hanya untuk sekedar mendengarkan kisah galau hati, pengalaman dan pandangan hidup, kegemaran, hingga pada tetek bengek urusan makan minum, dll. Sahabat sejati yang tadinya hanya lewat dunia maya, kini kita wujudkan dalam dunia nyata. Komunikasi kita menjadi rutin, saling mendukung dan berbagi. Aku teringat akan pandangan sendu matamu ketika di depan kampus. Intuisiku mengatakan, ada beban teramat berat tersimpan di sana. Dan untuk sesuatu alasan yang belum kuketahui, aku tak merelakan beban apapun tersimpan di mata yang indah itu.
Jum’at, 14 Januari 2011
Ini Jum’at kedua kita bertemu, dan benar kataku, “selama kita bersama maka dunia tak akan kiamat”. Kali ini kau menungguku di warung soto dekat kostku. Ketika kudatang, kuajak kau ke warung lain yang udaranya lebih adem, agar kita tak keringatan karena udara yang sangat panas. Entah alasan apa, aku kembali memakai baju putih yang pernah kupakai ketika pertama kita berjumpa. Belum pernah kuberitahu pula, setiap kita janjian berjumpa, maka 2 hari sebelum kita bertemu, aku telah menyetrika bajuku. Entahlah, tak ada alasan untuk itu, karena hidup tak melulu menuntut rasionalisasi, ada hal-hal yang tak diungkapkan tetapi kepekaan mampu menangkap dan merasakannya.
Hari itu warungnya ramai, dan kita mengambil tempat duduk di pojok. Mula-mula kau menceriterakan tentang pengalamanmu ketika menantang tirani Orde Baru di bawah panji-panji Merah, juga kekecewaanmu pada Merah yang kini telah pudar itu. Dan dalam pengalaman sejarah, hampir semua merah selalu pudar pada akhirnya. Aku menikmati ceritamu, dan semakin mengagumimu yang pernah membaktikan masa muda, masa menempuh ilmu di bangku kuliah, untuk turun ke jalan memblejeti rezim tirani fasis-militeristik.
Semangatku yang berapi-api mengkritik polamu dan kawan-kawanmu ketika itu yang hanya memblejeti rezim tanpa memblejeti sistem, langsung luruh ketika kau melanjutkan cerita hidupmu. Dibui, kemudian ditebus, hingga akhirnya menikah dengan ‘sang penebus’. Sampai sekarang hidup sebagai alat pertautan segala kepentingan. Sungguh suatu kisah yang mengingatkanku pada Ontosoroh dalam Tetralogi Pramoedya atau Dedes dalam kisah Arok Dedes karya Pramoedya. Serentak aku berpikiran untuk menjadi seperti Minke atau Arok, sebagai teman berbagi, teman bersekongkol, agar kau keluar dari situasi itu.
Kita tak lama duduk-duduk di situ, karena kau pamit pulang. “Masih ada urusan lain”, katamu. Tetapi, pertemuan kedua ini sungguh-sungguh menghentakanku. Selama ini aku berpikiran bahwa persoalan ketidakadilan dalam masyrakat hanya melulu soal klas-klas sosial yang berkontradiksi dalam masyarakat. Aku tak menyangka bahwa perempuan dari kelas atas sepertimu pun bisa mengalami ketidakadilan dalam rumah tangga. Sampai kini aku masih belum mampu menerima kisahmu itu. Aku merasa, mereka adalah musuh-musuhku juga, “aku akan menghadapi mereka suatu saat nanti”, batinku dalam hati, dan itu janji yang kupegang hingga kini, sampai kapanpun.
Ketika si Merah-mu jalan, akupun pulang sambil menenteng spagheti buatanmu. Lidahku merasakan nikmatnya, tetapi pikiranku berkobar-kobar tekad. Ada rindu dan dendam di sana. Ada ketakrelaan, dan itu terbawa-bawa dalam aktivitasku, hingga akhirnya aku minta kau datang lagi.
Jum’ad, 21 Januari 2011
Kali ini kau menungguku di depan kampusku, bersama blus legendaris putihmu, dan aku memakai baju merah. Demi membayar taruhan sepak bola padaku, kau menjebak para pengawal yang setia membuntutimu. Kita pakai sepeda motor, ke tempat siap saji yang baru didirikan. Tak banyak yang kita obrolkan, tetapi hari itu, matamu semakin terlihat sendu. Kau baru pulang pendalaman rohani, dan itu sangat menyiksamu. Aku seperti biasa, selalu tak habis pikir mendengar kisah-kisah tragis yang menimpamu. Tetapi aku bukan kasihan atau iba, bukan! Aku turut merasakan apa yang kau rasakan, dan aku ingin kau membagi bebanmu padaku, hingga suatu saat nanti, bersama, kita singkirkan beban-beban itu. Aku tak peduli, siapapun yang bakal dihadapi, kita harus melawan, bersisian dan berbagi.
Setelah kau pulang hari itu, makin mantap keyakinanku untuk berbagi denganmu. Dan ternyata itu tak bertepuk sebelah tangan, kaupun tak berkeberatan untuk membangun relasi khusus denganku. Relasi yang kita namakan, relasi kemanusiaan. Hari-hari selanjutnya, kita terus membangun komunikasi, dan membuka batas. Kita telah menjadi pasangan kekasih, yang setara dan merdeka, selalu ada ketika salah satu membutuhkan, selalu berbagi dan bersisian. Kaulah cinta pertamaku!
Rabu, 26 Januari 2011
Setelah hari-hari yang selalu kita lalui bersama, inilah kali pertama kita berjumpa bukan di hari Jum’ad. Hari itu kau datang membawa beberapa buku dan makanan. Kita berkeliling-keliling menggunakan sepeda motor, city tour, begitu kita menyebutnya. Aku turut berbahagia kala dalam perjalanan kau merentangkan tangan bagai burung yang terbang bebas di udara. Aku semakin bertekad untuk takkan meninggalkanmu. Kita berdiskusi, bersekutu, dan bersekongkol untuk bertemu lagi, saling membagi kebahagiaan dan semangat. Seperti bunyi pesan singkat Usthon di 2 januari 2011 pada Demy;
“Perasaan cinta seseorang tidak bisa diukur dari seberapa indah dia berkata, seberapa romantis dia berperilaku, seberapa sering dia telepon atau sms kamu, tetapi dari seberapa lama dia bertahan dengan kekuranganmu dan seberapa dalam dia menghormati dan menghargaimu sebagai seorang manusia. Apapun yang terjadi, kita harus tetap semangat dan yakin menjalani!”
(Bersambung...)
---Dante Che, 13/11/2011
Jum’at, 7 Januari 2011
Jum’at kedua di tahun ini, kita pertama kali bersua, disaksikan si anak yang me’malak’mu. Kau memberiku buku dan roti donat, aku memberimu sebotol aqua, kau berbaju merah dan aku memakai baju putih, dan kita sama-sama mengenakan celana berwarna gelap kala itu. Dua insan penyuka buku, kau memberikan makanan dan aku memberikanmu minuman. Warna baju yang tak di-setting sebelumnya, seolah-olah memindahkan tiang bendera ke depan kampusku, berkibar-kibar disaksikan anak jalanan malang itu. Kita tak banyak bicara ketika itu, kau malu-malu, dan jujur aku agak gugup, seolah belum yakin kalau perempuan yang selama ini berdiskusi, berdebat, dan saling menukar cerita ini, kini tegak berdiri di hadapanku. Aku mendadak lupa kalau sebelumnya kau mengirimkan pesan singkat perihal adanya pentol yang kelihatannya patut dicoba dan kita bisa duduk-duduk di situ.
Tak seperti di dunia maya, aku tak banyak bicara ketika kau pamit untuk mengecek persiapan acara di tempat kerjamu, dan aku seolah-olah cuek, masuk ke dalam gerbang kampus. Namun belum pernah kuberitahu padamu sebelumnya, ketika si Merah-mu menderu meninggalkan kampusku, aku berlari-lari keluar, berdiri dan menatapmu sampai kau membelok di pertigaan jalan. Saat itulah bercampur-campur perasaanku. Antara senang, ragu, cemas, dan menyesal menjadi satu. Aku senang karena bersua denganmu, perempuan yang selama ini berkawan denganku dalam ruang imajinasi. Kini kau nyata, aku senang. Tetapi kemudian aku menjadi cemas, apakah kau juga senang ketika bertemu aku? Hingga membuatku ragu untuk mengirimkan sms padamu, walau hanya sekedar sms terima kasih dan hati-hati di jalan. Aku menjadi sangat menyesal, kenapa tadi tak mengajakmu duduk-duduk minum atau hanya sekedar sedikit bercakap-cakap .
Aku sudah hendak mengirimkan sms untukmu, ketika ada pesan masuk, “apakah kau kecewa telah bertemu aku?” Aku langsung membalasnya, “tak ada sedikitpun rasa kecewa, malah aku sangat senang dan bersyukur”. Kau Cuma membalas, ‘^_^’, yang kemudian kutanggapi dengan, ‘Oklah’. Tanda ‘^_^’ telah kita sepakati sebagai Demy’s style, dan kata ‘Oklah’ sebagai Usthon’s style. Kau bertanya padaku, “ tak apa-apa kah kalau aku datang lagi?” Yang kubalas, “setiap hari datang malah lebih bagus.” Kau cuma mengatakan, “semoga Jum’at depan dunia belum kiamat”, dan aku dengan pede bilang,"Juma’at depan, depan, dan depannya lagi, dstnya, dunia belumlah kiamat selama kita masih bersama ^_^”.
Itulah perjumpaan pertama kita, setelah sebelumnya kita saling berkenalan lewat dunia maya. Kita bertukaran nomor kontak, saling berbalas pesan. Apapun yang aku alami atau rasakan, aku ceritakan padamu, begitu juga sebaliknya. Kita menjadi akrab, walau belum pernah bertemu. Semua hal kita jadikan sebagai bahan diskusi, dan hari-hari kita diisi dengan debat tentang apa saja. Kita seolah-olah berbeda pendapat, padahal kita sama-sama saling mengagumi. Kau mengagumi kecerdasan dan kekeras-kepalaanku, sedangkan aku mengagumi kebaikan budimu, kecerdasan, dan kecantikanmu yang berseri. Di atas semua itu, kita saling menghormati dan menghargai sebagai manusia. Kita sama-sama mencintai kesetaraan dan kebebasan. Kita sama-sama anti terhadap tirani, sinis, dan cenderung menertawakannya dalam obrolan-obrolan kita.
Kau perempuan aristokrat dari kalangan kelas atas, sedangkan aku borjuis kecil berlatar belakang kelas feodal di salah satu kota kecil di negeri kepulauan ini. Kita bersepakat untuk membuka batas yang mengungkung kita, kita menjadi kawan yang sama sekali tak peduli pada konstruksi sosial turun temurun. Perkawanan kita sungguh merdeka, hingga akhirnya berlanjut pada saling membutuhkan. Entah itu, hanya untuk sekedar mendengarkan kisah galau hati, pengalaman dan pandangan hidup, kegemaran, hingga pada tetek bengek urusan makan minum, dll. Sahabat sejati yang tadinya hanya lewat dunia maya, kini kita wujudkan dalam dunia nyata. Komunikasi kita menjadi rutin, saling mendukung dan berbagi. Aku teringat akan pandangan sendu matamu ketika di depan kampus. Intuisiku mengatakan, ada beban teramat berat tersimpan di sana. Dan untuk sesuatu alasan yang belum kuketahui, aku tak merelakan beban apapun tersimpan di mata yang indah itu.
Jum’at, 14 Januari 2011
Ini Jum’at kedua kita bertemu, dan benar kataku, “selama kita bersama maka dunia tak akan kiamat”. Kali ini kau menungguku di warung soto dekat kostku. Ketika kudatang, kuajak kau ke warung lain yang udaranya lebih adem, agar kita tak keringatan karena udara yang sangat panas. Entah alasan apa, aku kembali memakai baju putih yang pernah kupakai ketika pertama kita berjumpa. Belum pernah kuberitahu pula, setiap kita janjian berjumpa, maka 2 hari sebelum kita bertemu, aku telah menyetrika bajuku. Entahlah, tak ada alasan untuk itu, karena hidup tak melulu menuntut rasionalisasi, ada hal-hal yang tak diungkapkan tetapi kepekaan mampu menangkap dan merasakannya.
Hari itu warungnya ramai, dan kita mengambil tempat duduk di pojok. Mula-mula kau menceriterakan tentang pengalamanmu ketika menantang tirani Orde Baru di bawah panji-panji Merah, juga kekecewaanmu pada Merah yang kini telah pudar itu. Dan dalam pengalaman sejarah, hampir semua merah selalu pudar pada akhirnya. Aku menikmati ceritamu, dan semakin mengagumimu yang pernah membaktikan masa muda, masa menempuh ilmu di bangku kuliah, untuk turun ke jalan memblejeti rezim tirani fasis-militeristik.
Semangatku yang berapi-api mengkritik polamu dan kawan-kawanmu ketika itu yang hanya memblejeti rezim tanpa memblejeti sistem, langsung luruh ketika kau melanjutkan cerita hidupmu. Dibui, kemudian ditebus, hingga akhirnya menikah dengan ‘sang penebus’. Sampai sekarang hidup sebagai alat pertautan segala kepentingan. Sungguh suatu kisah yang mengingatkanku pada Ontosoroh dalam Tetralogi Pramoedya atau Dedes dalam kisah Arok Dedes karya Pramoedya. Serentak aku berpikiran untuk menjadi seperti Minke atau Arok, sebagai teman berbagi, teman bersekongkol, agar kau keluar dari situasi itu.
Kita tak lama duduk-duduk di situ, karena kau pamit pulang. “Masih ada urusan lain”, katamu. Tetapi, pertemuan kedua ini sungguh-sungguh menghentakanku. Selama ini aku berpikiran bahwa persoalan ketidakadilan dalam masyrakat hanya melulu soal klas-klas sosial yang berkontradiksi dalam masyarakat. Aku tak menyangka bahwa perempuan dari kelas atas sepertimu pun bisa mengalami ketidakadilan dalam rumah tangga. Sampai kini aku masih belum mampu menerima kisahmu itu. Aku merasa, mereka adalah musuh-musuhku juga, “aku akan menghadapi mereka suatu saat nanti”, batinku dalam hati, dan itu janji yang kupegang hingga kini, sampai kapanpun.
Ketika si Merah-mu jalan, akupun pulang sambil menenteng spagheti buatanmu. Lidahku merasakan nikmatnya, tetapi pikiranku berkobar-kobar tekad. Ada rindu dan dendam di sana. Ada ketakrelaan, dan itu terbawa-bawa dalam aktivitasku, hingga akhirnya aku minta kau datang lagi.
Jum’ad, 21 Januari 2011
Kali ini kau menungguku di depan kampusku, bersama blus legendaris putihmu, dan aku memakai baju merah. Demi membayar taruhan sepak bola padaku, kau menjebak para pengawal yang setia membuntutimu. Kita pakai sepeda motor, ke tempat siap saji yang baru didirikan. Tak banyak yang kita obrolkan, tetapi hari itu, matamu semakin terlihat sendu. Kau baru pulang pendalaman rohani, dan itu sangat menyiksamu. Aku seperti biasa, selalu tak habis pikir mendengar kisah-kisah tragis yang menimpamu. Tetapi aku bukan kasihan atau iba, bukan! Aku turut merasakan apa yang kau rasakan, dan aku ingin kau membagi bebanmu padaku, hingga suatu saat nanti, bersama, kita singkirkan beban-beban itu. Aku tak peduli, siapapun yang bakal dihadapi, kita harus melawan, bersisian dan berbagi.
Setelah kau pulang hari itu, makin mantap keyakinanku untuk berbagi denganmu. Dan ternyata itu tak bertepuk sebelah tangan, kaupun tak berkeberatan untuk membangun relasi khusus denganku. Relasi yang kita namakan, relasi kemanusiaan. Hari-hari selanjutnya, kita terus membangun komunikasi, dan membuka batas. Kita telah menjadi pasangan kekasih, yang setara dan merdeka, selalu ada ketika salah satu membutuhkan, selalu berbagi dan bersisian. Kaulah cinta pertamaku!
Rabu, 26 Januari 2011
Setelah hari-hari yang selalu kita lalui bersama, inilah kali pertama kita berjumpa bukan di hari Jum’ad. Hari itu kau datang membawa beberapa buku dan makanan. Kita berkeliling-keliling menggunakan sepeda motor, city tour, begitu kita menyebutnya. Aku turut berbahagia kala dalam perjalanan kau merentangkan tangan bagai burung yang terbang bebas di udara. Aku semakin bertekad untuk takkan meninggalkanmu. Kita berdiskusi, bersekutu, dan bersekongkol untuk bertemu lagi, saling membagi kebahagiaan dan semangat. Seperti bunyi pesan singkat Usthon di 2 januari 2011 pada Demy;
“Perasaan cinta seseorang tidak bisa diukur dari seberapa indah dia berkata, seberapa romantis dia berperilaku, seberapa sering dia telepon atau sms kamu, tetapi dari seberapa lama dia bertahan dengan kekuranganmu dan seberapa dalam dia menghormati dan menghargaimu sebagai seorang manusia. Apapun yang terjadi, kita harus tetap semangat dan yakin menjalani!”
(Bersambung...)
---Dante Che, 13/11/2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar