Mari kita pergi,
untuk membebaskan pulau yang kau cintai…
Tentu tanpa bermaksud mengurangi kemuliaan dan keagungan berbagai wejangan dan nyanyian leluhur, dengan mengutip sebait lagu yang pernah disenandungkan oleh seorang pembebas dari Latin, Che Guevara.
Sebuah bait yang sarat agitatif bahkan bisa disebut provokatif, sebagaimana tuduhan kaum moderat. Sebait lagu yang menantang kita untuk berani memilih jalan-jalan sunyi, jalan yang penuh suka-duka untuk membebaskan diri dari kekangan zaman yang ditandai dengan kuatnya hegemoni modal mencengkeram dan masih bercokolnya warisan-warisan feodalisme; sembari mengintip peluang menarik gorden menyambut fajar masa depan.
Kocap kacarita, memilih meniti jalan sunyi berarti berlayar melawan arus logika mainstream dan tetek bengek konstruksi sosial lainnya.
Dan di baris terakhir, ditandaskan; “untuk membebaskan pulau yang kau cintai”, membebaskan manusia memacu dan mengembangkan individualitasnya di tengah situasi ekonomi politik yang menistakan manusia.
Manusia, demikianlah empunya harkat dan martabat, lahir dan berjalan melintasi padang gurun kehidupan, sekian jauh berjalan berikut temuan-temuan oase maupun ilusi-ilusi fatamorgananya.
Namun, satu hal yang pasti, sejarah tergurat padanya. Dan Victor Hugo seperti punya mata ketiga. Fantasinya yang berbicara nun jauh di masa yang lampau, tiba-tiba hidup hari ini, di atas pembantaian harkat dan martabat manusia yang telah menjadi sebuah seni.
Demikianlah, seperti yang Moliere kisahkan dalam karyanya berjudul Le Misanthrope, tentang kebencian seorang tokoh, Alceste, terhadap apa yang disebut ‘kemunafikan’, terhadap pembantaian harkat dan martabat manusia yang telah menjadi sebuah seni. Saking radikalnya Alceste, sampai-sampai ia memutuskan untuk hengkang dari dunia, yang olehnya dipandang sebagai tempat penuh kemunafikan.
Persoalan yang digambarkan Hugo, pembebasan pada pulau yang kita cintai, tentu tidak melulu pada metode jalan-jalan sunyi kontra style ala Alceste.
Memilih menjadi seperti Alceste yang harus melarikan diri dari dunia dan tidak berani menatap realitas obyektif yang ada atau malah pasrah pada keadaan sebagaimana seorang pastor, tokoh sandiwara Hendrik Ibsen, yang pernah dengan putus asa berteriak ke arah langit, “ jika tidak dengan kemauan, bagaimana manusia bisa ditebus?”
Begitulah, saya memandang bahwa carut marut situasi ekonomi, politik, hukum, sosial, dan budaya nasional yang berbanding lurus dengan mahal serta langkanya akses terhadap pendidikan dan kesehatan di Negara ini, sebagai akibat dari privatisasi dan komersialisasi industri-industri nasional kita ke tangan imperialis; bukanlah persoalan ecek-ecek yang bisa diselesaikan dengan sekedar menjentikkan jari atau semudah membalikan telapak tangan.
Pertanyaannya; apa problem pokok masyarakat Indonesia saat ini? Marilah kita mendiskusikannya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar