Fajar masih bergulat dengan pekat rimbunnya Pipodo, berusaha menaklukkan dingin yang seolah-olah abadi menyelimuti kota kecil Bajawa. Inerie di selatan dan Inelika di utara setia mengapiti, memayungi lembah kota di daerah pegunungan yang terletak kurang lebih 1.100 m di atas permukaan laut ini.
Puncak-puncak Wolongadha menjadi pemantul sedikit kehangatan dari sang surya, menghalau para kawula yang masih asyik menggolekkan diri dalam kain panas (selimut) di tempat tidur atau rutinitas pagi hari; duduk-duduk melingkari tungku api sambil menikmati kopi Bajawa.
Itu selasa pagi pukul 09.15 wita- 17 april tahun 1990, tentu ada yang harus bangun pagi-pagi untuk pergi dheso sapi atau loka ngana, berangkat ke sekolah atau pergi kerja, ataupun sekedar ngeu nata atau weghi ulu, dan macam-macam lainnya. Di sana-sini, beberapa keluarga tampak masih asyik terlelap dalam epik romantisisme berkumpul dengan keluarga besar masing-masing, walau pesta paskah telah lewat seminggu.
Sementara itu, di RSUD Bajawa, tangis bayi memecahkan kesyahduan pagi, membahana memenuhi lembah. Tak jelas motifnya menangis. Yang jelas, tak ada yang mencubit atau memarahinya. Mungkin karena dingin atau karena kenyamanannya selama 9 bulan dalam kandungan harus berakhir. Atau jangan-jangan ada janjian di antara para bayi untuk menciptakan tren menangis saat dilahirkan, dan hanya sesama bayi saja yang mengerti. Entahlah!
Konon, setelah melalui pendiskusian, mungkin juga perdebatan terhadap beberapa opsi yang diajukan, si bayi campuran Turekisa-Mangulewa yang baru lahir itu diberi nama Juanito Cletino Gurado Delano. Jelas tanpa melalui voting, karena sudah ada mekanismenya tersendiri bernama Soro Fena, alias bersin saat pertama kali diberikan nama.
Berdasarkan kepercayaan turun temurun yang diwariskan nenek moyang, kalau bayi bersin atau buang air tepat ketika diberikan sesuatu nama, itu artinya si bayi setuju dengan nama tersebut.
Tentu saja mekanisme ini lain dengan bayi yang sehari sebelumnya juga baru memekikkan tangis pertamanya di dunia. 4 selat ke arah barat kota Bajawa, di tengah-tengah hiruk-pikuk kota Jakarta tepatnya. Juga tak jelas apa motifnya menangis, karena toh tak ada bukit atau pepohonan rimbun yang menghalangi sang surya, tak ada dingin abadi di kota metropolis tersebut. Gedung-gedung pencakar langit yang dibangun di atas penggusuran, darah, dan air mata kaum marjinal pun tampaknya tak menciptakan kepengapan bagi yang mendiaminya.
Yang jelas, juga tak ada voting di sini. Entah bagaimana mekanismenya. Besar kemungkinan, nama tersebut telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Maka jadilah si bayi diberi nama Nia Ramadhani.
Makin bergeser ke arah barat kota Bajawa, melewati 2 samudera, di kota Harlow, Essex-Inggris, seorang gadis remaja bernama Victoria Adams sedang merayakan hari ulang tahunnya yang ke-16. Rambut hitam panjang berpadu kulit cokelat, cemerlang dalam balutan tawa ria Barbeque Party. Tentu ada banyak gadis Bajawa yang lebih cantik daripadanya.
Seandainya nenek moyangnya lebih lama menjajah Hindia (Indonesia), mungkin rutinitas pagi di Bajawa adalah memadukan kopi dengan barbeque, atau Stadion Lebijaga dipermak menjadi stadion dengan kapasitas besar dan PSN Ngada menjadi salah satu raksasa sepakbola, dan Bajawa dipenuhi dengan mansion-mansion mewah para pesepakbola atau selebriti di kampung Bena. Tenunan-tenunan ikat disulap jadi kiblat mode. Mungkin.
Terlalu rumit kalau mengandai-andaikan sejarah. Yang pasti, tadi barusan, kurang lebih pukul 17.30-an wib, Bu Laksmi, sang pemilik kios di kompleks melahirkan anaknya dengan selamat. Konon, nama panggilannya adalah Emka. Juga dengan tangisan, beriring berpadu dengan suara azhan dari surau yang mengepung dari 3 jurusan, pemberian nama untuk Emka memakai mekanisme voting.
Selamat ulang tahun untuk Nia Ramadhani & Victoria Adams!
Selamat datang di dunia tangis & tawa untuk Emka!
(NB : Notes iseng-iseng)
*******
Dante Che, 16 / 04 / 2012
Dengan ilmu pengetahuan modern, binatang buas akan menjadi lebih buas, dan manusia keji akan semakin keji. Tapi jangan dilupakan, dengan ilmu-pengetahuan modern, binatang-binatang yang sebuas-buasnya juga bisa ditundukkan!
Senin, 16 April 2012
Rabu, 04 April 2012
BBM
Akhir-akhir ini, sebagian besar anak negeri larut ribut dalam pro kontra wacana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Melalui BlackBerry Messenger (BBM), elit-elit menebar kicau bangkitkan provokasi. Bambang Boediono Mundur (BBM) menjadi salah satu seruan yang marak, bersanding dengan asa para sepakbola mania; Barca Bantai Milan (BBM) agar terwujud final idaman Barca Battle Madrid (BBM).
Rakyat Benar-Benar Marah (BBM), berhadapan dengan pemerintah yang tampaknya Benar-Benar Manja (BBM), juga kelakuan parpol-parpol di gedung dewan perwakilan rakyat yang Bikin Bingung Masyarakat (BBM). Susunan kabinet yang lebih tepatnya disebut Birokrasi Bongkar Muat (BBM), menjadi semakin dramatis dengan tarik ulur subsidi yang konon akan dipergunakan sebagai Bantuan Buat Masyarakat (BBM).
Kompromi, deal-dealan, ataupun dagelan yang elit-elit tampilkan, makin tak mampu menyembunyikan wajah mereka yang sebenarnya; Bandit-Bandit Maling (BBM). Perlawanan di mana-mana, Bara Berkobar Menyala (BBM), protes datang dari berbagai kalangan. Rakyat turun ke jalan Berlawan Bersama Mahasiswa (BBM), juga pemogokan , Buruh Bangkit Menggugat (BBM).
Kini keputusan kenaikan harga untuk sementara ditunda, tetapi represifitas Begundal-Begundal Militer (BBM) menyisakan soal. Maka, kepada seluruh rakyat negeri, marilah Berbareng Bergerak Melawan (BBM)!
*******
Dante Che, 04 / 04 / 2012
Rakyat Benar-Benar Marah (BBM), berhadapan dengan pemerintah yang tampaknya Benar-Benar Manja (BBM), juga kelakuan parpol-parpol di gedung dewan perwakilan rakyat yang Bikin Bingung Masyarakat (BBM). Susunan kabinet yang lebih tepatnya disebut Birokrasi Bongkar Muat (BBM), menjadi semakin dramatis dengan tarik ulur subsidi yang konon akan dipergunakan sebagai Bantuan Buat Masyarakat (BBM).
Kompromi, deal-dealan, ataupun dagelan yang elit-elit tampilkan, makin tak mampu menyembunyikan wajah mereka yang sebenarnya; Bandit-Bandit Maling (BBM). Perlawanan di mana-mana, Bara Berkobar Menyala (BBM), protes datang dari berbagai kalangan. Rakyat turun ke jalan Berlawan Bersama Mahasiswa (BBM), juga pemogokan , Buruh Bangkit Menggugat (BBM).
Kini keputusan kenaikan harga untuk sementara ditunda, tetapi represifitas Begundal-Begundal Militer (BBM) menyisakan soal. Maka, kepada seluruh rakyat negeri, marilah Berbareng Bergerak Melawan (BBM)!
*******
Dante Che, 04 / 04 / 2012
Jumat, 30 Maret 2012
Rakyat Melawan Tirani
Penguasa berkoar tentang statistika dan janji-janji
Raut meyakinkan dalam balutan senyum yang mengilusi
Menciptakan manajemen konflik dalam berbagai opini
Aparat militer tak ubahnya zombi
Alat rezim untuk menjaga supremasi
Agar kekuatan modal tetap menghegemoni
Rakyat dihadapkan dengan TNI-Polri
Perlengkapan perang versus perlengkapan aksi
Selongsongan peluru menghajar pekikan orasi
Sebagian elit lainnya mencoba manfaatkan situasi
Kembali berusaha membangun kampanye citra diri
Seolah membela gerakan yang sedang teradikalisasi
Rakyat tak boleh lagi sampai dibodohi
Harus berani percaya dengan kekuatan sendiri
Menggugat kemanusiaan yang terus dibantai
Gugus kelindan jaringan yang terangkai
Derapkan langkah satukan nurani
Bergerak maju menggempur tirani!
*******
Dante Che, 30 / 03 / 2012
Raut meyakinkan dalam balutan senyum yang mengilusi
Menciptakan manajemen konflik dalam berbagai opini
Aparat militer tak ubahnya zombi
Alat rezim untuk menjaga supremasi
Agar kekuatan modal tetap menghegemoni
Rakyat dihadapkan dengan TNI-Polri
Perlengkapan perang versus perlengkapan aksi
Selongsongan peluru menghajar pekikan orasi
Sebagian elit lainnya mencoba manfaatkan situasi
Kembali berusaha membangun kampanye citra diri
Seolah membela gerakan yang sedang teradikalisasi
Rakyat tak boleh lagi sampai dibodohi
Harus berani percaya dengan kekuatan sendiri
Menggugat kemanusiaan yang terus dibantai
Gugus kelindan jaringan yang terangkai
Derapkan langkah satukan nurani
Bergerak maju menggempur tirani!
*******
Dante Che, 30 / 03 / 2012
Kamis, 29 Maret 2012
Dialog Dalam Barisan Demonstrasi
"Dalam bertarung, para pejuang rela berkorban, mati-matian, militan; para pemberani memenangkannya; dan para pecundang menguasainya. Coba kamu ingat, apa yang partai ini lakukan saat ibu pimpinan mereka menjadi penguasa negeri ini. Bukankah mereka tenang-tenang saja saat ibu pimpinan mereka menjual aset-aset nasional ke pihak asing? Bukankah saat berkuasa dulu, ibu pimpinan mereka berkali-kali menaikkan harga BBM, mensahkan UU no 13 tahun 2003 yang sangat merugikan kaum buruh, membebaskan koruptor-koruptor besar, tak berani mengadili para jenderal pelanggar HAM, tak berani mengusut kejahatan-kejahatan Orba, dsbnya. Mereka ini jelas bukan petarung, pejuang, atau pemberani. Mereka hanyalah lingkaran pecundang yang ingin memanfaatkan situasi dan wacana kenaikan BBM kali ini", Keithy membuka percakapan menghilangkan rasa bosan yang sejak tadi melanda.
"Kamu jelas bukan sosok pemaaf. Yang kedua, kamu harus paham bahwa materi itu selalu berubah, berdialektika. Yang dahulu kawan sekarang bisa jadi lawan, begitupula sebaliknya, yang dahulu lawan sekarang bisa jadi kawan. Di kelompok para elit sana juga ada perpecahan, juga ada faksi-faksi", Sishee menimpali sambil tetap asyik mengamati metode aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh Partai Dekrit Ibu Pimpinan.
Saat itu, belum genap tiga perempatnya senja, tapi Keithy sudah gerah berada di tengah hiruk-pikuk aksi demonstrasi yang lebih menyerupai rangkaian acara kampanye ini. Sementara aksinya konon bakal berlangsung hingga malam menjelang. "Kaum gerakan tak boleh kekiri-kirian, tak boleh berlaku elitis. Harus menghampiri kaum ekonomis, moralis, bahkan yang reaksioner sekalipun. Karena tak ada gerakan yang besar yang tak politis", lanjut Sishee di sela-sela dentuman musik dangdut yang mengalun dari mobil komando. Tampak pula para kader-kader dan simpatisan yang berkaraoke, asyik berjoget ria sambil memaki-maki ketua DPRD (dewan pimpinan rok-mini daerah), Gubernur, dan Presiden yang kebetulan berlatarbelakang dari Partai Duit. Bahkan Walikota perempuan yang mereka usung dan menangkan dalam pilkada-pun dimaki-maki karena tak mau menemui mereka. Beberapa Polwan cantik tampak berusaha untuk tidak salah tingkah, saat jadi sasaran godaan massa aksi, yang didominasi kaum pria.
"Tapi begini Sishee, orang-orang selalu menjadi korban tipu muslihat atau sering menipu diri dalam kehidupan politiknya, dan mereka akan terus menerus bersikap demikian bila mereka tidak berhasil memahami kepentingan-kepentingan klas di balik tabir moral, agama, sosial-politik, deklarasi-deklarasi, dan janji-janji". Sishee tersenyum, mengangkat bahu, sejurus kemudian, tampak teringat sesuatu. "Ah Keithy, itu kan kata-katanya Vladimir Lenin tentang prinsip metodologi Marxisme yang paling mendasar, tentang pendekatan klas. Yang mengasumsikan bahwa masyarakat terbagi ke dalam klas-klas".
Maka, mulailah dua sahabat yang bolos kuliah untuk ikut demonstrasi itu tenggelam dalam debat tentang berbagai hal yang mereka baca ataupun pelajari sendiri. "Begini Sishee, benar bahwa di antara kaum elit-pun ada perpecahan, persaingan, ataupun faksi-faksi. Tapi berbeda dengan faksi-faksi dalam kaum gerakan yang punya perspektif anti imperialisme asing dan menolak sisa-sisa feodalisme, elit-elit kita kan tak lebih dari borjuasi komprador. Bermental pengecut sejak kemunculannya, progresif saat tertekan, dan konservatif saat memimpin. Sebelum berkuasa, ibu Megawereng muncul sebagai sosok yang dizolimi pak Hartomcat. Setelah turun dari kekuasaan, malah menuduh Jend (Purn) SiBuaYa menusuknya dari belakang. Itu politik Sishee, tak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan. Mereka sama-sama berkepentingan terhadap berlangsungnya hegemoni kapitalisme dan mendapatkan ceceran kekuasaan. Pro-kontra kenaikan BBM tak lebih dari upaya kampanye merebut simpati rakyat, atau yang lebih parah lagi, seperti biasa, adalah media pengalihan isu. Mulai dari persoalan peradilan para tersangka korupsi, pilkada di daerah pusat kekuasaan, dll. Sebagaimana yang Don Corleone katakan, di balik setiap keuntungan yang besar, terdapat kejahatan yang besar".
Saat Keithy sedang panjang lebar memberikan penjelasannya pada Sishee, tampak beberapa kader Partai Dekrit Ibu Pimpinan sedang membagi-bagikan nasi bungkus, tahu isi, dan minuman kepada massa aksi yang sejak beberapa menit lalu mulai berkurang drastis, ditinggal pulang. Belakangan diketahui kalau ternyata banyak yang lapar, sebagian lagi beralasan ngantuk, dan beberapa punya agenda lain. Dari atas mobil komando, sang orator mewanti-wanti massa aksi agar jangan ikut-ikutan pulang, karena makanan untuk alas perut sudah datang.
"Nah Sishee coba kamu lihat. Seumur-umur ikut aksi, baru kali ini ada aksi yang bagi-bagi nasi bungkus tanpa kita urunan sebelumnya". Sishee tampak sedikit kesal, " Keithy, kita ke sini kan bukan untuk mengamati pembagian makanannya. Kita kan bersolidaritas. Ini partai oligarkis, yah kita-pun sama-sama tahu. Tapi coba kamu ingat-ingat, setelah PKI (Partai Komunis Indonesia), belum ada lagi partai besar yang punya basis massa banyak yang memakai politik mobilisasi massa. Partai-partai besar kan selalu berkompromi, penyelesaian dengan jalan deal-dealan. Ada partai besar memobilisasi basis massa dengan tuntutan menolak kenaikan BBM seperti ini tentulah sebuah kemajuan, dan patut diapresiasi. Kita harus bisa mengambil manfaat dari radikalisasi isu kenaikan BBM ini".
"Hey Sishee, sebelum ini kan ada Partai Keongracun Selamat yang juga memakai politik mobilisasi massa, menyerukan jihad melawan Yahudi. Tapi mobilisasi massanya Partai Keongracun Selamat dengan Partai Dekrit Ibu Pimpinan ini berbeda dengan politik mobilisasi massanya PKI. PKI adalah partai modern pertama di Indonesia yang sejak kemunculannya tetap konsisten melawan kolonialisme, imperialisme, dan sisa-sisa feodalisme. Memimpin perjuangan berbagai organisasi kaum progresif revolusioner yang terorganisir dan terpimpin, yang terdiri dari klas buruh, kaum tani, mahasiswa, pemuda, seniman, dan kaum perempuan. PKI juga tercatat sebagai organisasi politik pertama yang melakukan pemberontakan bersenjata terhadap kolonial. Caat itu: massa yang terorganisir dan terpimpin, bukan massa mobilisir seperti ini", sahut Keithy berapi-api.
"Iya tapi semua kan butuh proses, Keithy. Harus selalu sabar dan cerdik memasok kesadaran sejati dalam setiap panggung yang disediakan". Keithy tak mengindahkan celetukan Sishee, terus melanjutkan, "Januari lalu ibu Megawereng menganjurkan pemerintah menaikan harga BBM. Tapi beberapa minggu lalu, malah mengecam wacana kenaikan harga BBM yang digulirkan pemerintah, dan sekarang justru meneken tanda tangan yang berisi seruan melarang kader-kader Partai Dekrit Ibu Pimpinan terlibat dalam aksi demontrasi menolak kenaikan BBM. Di bawah radikal, kok di atas malah main MoU-an".
"Iya Keithy, semoga kaum gerakan bisa menjadi alternatif menuju perubahan yang lebih baik di negeri ini, tanpa perlu merusak lampu merah, mobil dinas, tanki, fasilitas umum, atau ketentraman warga." Senja telah turun menghampiri, keduanya makin jauh dari barisan massa aksi, hanya lagu iwak peyek yang masih samar-samar terdengar. SPBU yang baru dilewati-pun tampak sepi, hanya satu-dua kendaraan yang singgah untuk mengisi bahan bakar. Tak ada antrian panjang seperti yang heboh diberitakan di media massa. Kota Showrockboyo tetap seperti sediakala.
[Note: Kesamaan atau kemiripan nama, peristiwa, lokasi, maupun momen hanyalah kebetulan semata,- tanpa ada kesengajaan.:)]
*******
Dante Che, 28/ 03/ 2012
"Kamu jelas bukan sosok pemaaf. Yang kedua, kamu harus paham bahwa materi itu selalu berubah, berdialektika. Yang dahulu kawan sekarang bisa jadi lawan, begitupula sebaliknya, yang dahulu lawan sekarang bisa jadi kawan. Di kelompok para elit sana juga ada perpecahan, juga ada faksi-faksi", Sishee menimpali sambil tetap asyik mengamati metode aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh Partai Dekrit Ibu Pimpinan.
Saat itu, belum genap tiga perempatnya senja, tapi Keithy sudah gerah berada di tengah hiruk-pikuk aksi demonstrasi yang lebih menyerupai rangkaian acara kampanye ini. Sementara aksinya konon bakal berlangsung hingga malam menjelang. "Kaum gerakan tak boleh kekiri-kirian, tak boleh berlaku elitis. Harus menghampiri kaum ekonomis, moralis, bahkan yang reaksioner sekalipun. Karena tak ada gerakan yang besar yang tak politis", lanjut Sishee di sela-sela dentuman musik dangdut yang mengalun dari mobil komando. Tampak pula para kader-kader dan simpatisan yang berkaraoke, asyik berjoget ria sambil memaki-maki ketua DPRD (dewan pimpinan rok-mini daerah), Gubernur, dan Presiden yang kebetulan berlatarbelakang dari Partai Duit. Bahkan Walikota perempuan yang mereka usung dan menangkan dalam pilkada-pun dimaki-maki karena tak mau menemui mereka. Beberapa Polwan cantik tampak berusaha untuk tidak salah tingkah, saat jadi sasaran godaan massa aksi, yang didominasi kaum pria.
"Tapi begini Sishee, orang-orang selalu menjadi korban tipu muslihat atau sering menipu diri dalam kehidupan politiknya, dan mereka akan terus menerus bersikap demikian bila mereka tidak berhasil memahami kepentingan-kepentingan klas di balik tabir moral, agama, sosial-politik, deklarasi-deklarasi, dan janji-janji". Sishee tersenyum, mengangkat bahu, sejurus kemudian, tampak teringat sesuatu. "Ah Keithy, itu kan kata-katanya Vladimir Lenin tentang prinsip metodologi Marxisme yang paling mendasar, tentang pendekatan klas. Yang mengasumsikan bahwa masyarakat terbagi ke dalam klas-klas".
Maka, mulailah dua sahabat yang bolos kuliah untuk ikut demonstrasi itu tenggelam dalam debat tentang berbagai hal yang mereka baca ataupun pelajari sendiri. "Begini Sishee, benar bahwa di antara kaum elit-pun ada perpecahan, persaingan, ataupun faksi-faksi. Tapi berbeda dengan faksi-faksi dalam kaum gerakan yang punya perspektif anti imperialisme asing dan menolak sisa-sisa feodalisme, elit-elit kita kan tak lebih dari borjuasi komprador. Bermental pengecut sejak kemunculannya, progresif saat tertekan, dan konservatif saat memimpin. Sebelum berkuasa, ibu Megawereng muncul sebagai sosok yang dizolimi pak Hartomcat. Setelah turun dari kekuasaan, malah menuduh Jend (Purn) SiBuaYa menusuknya dari belakang. Itu politik Sishee, tak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan. Mereka sama-sama berkepentingan terhadap berlangsungnya hegemoni kapitalisme dan mendapatkan ceceran kekuasaan. Pro-kontra kenaikan BBM tak lebih dari upaya kampanye merebut simpati rakyat, atau yang lebih parah lagi, seperti biasa, adalah media pengalihan isu. Mulai dari persoalan peradilan para tersangka korupsi, pilkada di daerah pusat kekuasaan, dll. Sebagaimana yang Don Corleone katakan, di balik setiap keuntungan yang besar, terdapat kejahatan yang besar".
Saat Keithy sedang panjang lebar memberikan penjelasannya pada Sishee, tampak beberapa kader Partai Dekrit Ibu Pimpinan sedang membagi-bagikan nasi bungkus, tahu isi, dan minuman kepada massa aksi yang sejak beberapa menit lalu mulai berkurang drastis, ditinggal pulang. Belakangan diketahui kalau ternyata banyak yang lapar, sebagian lagi beralasan ngantuk, dan beberapa punya agenda lain. Dari atas mobil komando, sang orator mewanti-wanti massa aksi agar jangan ikut-ikutan pulang, karena makanan untuk alas perut sudah datang.
"Nah Sishee coba kamu lihat. Seumur-umur ikut aksi, baru kali ini ada aksi yang bagi-bagi nasi bungkus tanpa kita urunan sebelumnya". Sishee tampak sedikit kesal, " Keithy, kita ke sini kan bukan untuk mengamati pembagian makanannya. Kita kan bersolidaritas. Ini partai oligarkis, yah kita-pun sama-sama tahu. Tapi coba kamu ingat-ingat, setelah PKI (Partai Komunis Indonesia), belum ada lagi partai besar yang punya basis massa banyak yang memakai politik mobilisasi massa. Partai-partai besar kan selalu berkompromi, penyelesaian dengan jalan deal-dealan. Ada partai besar memobilisasi basis massa dengan tuntutan menolak kenaikan BBM seperti ini tentulah sebuah kemajuan, dan patut diapresiasi. Kita harus bisa mengambil manfaat dari radikalisasi isu kenaikan BBM ini".
"Hey Sishee, sebelum ini kan ada Partai Keongracun Selamat yang juga memakai politik mobilisasi massa, menyerukan jihad melawan Yahudi. Tapi mobilisasi massanya Partai Keongracun Selamat dengan Partai Dekrit Ibu Pimpinan ini berbeda dengan politik mobilisasi massanya PKI. PKI adalah partai modern pertama di Indonesia yang sejak kemunculannya tetap konsisten melawan kolonialisme, imperialisme, dan sisa-sisa feodalisme. Memimpin perjuangan berbagai organisasi kaum progresif revolusioner yang terorganisir dan terpimpin, yang terdiri dari klas buruh, kaum tani, mahasiswa, pemuda, seniman, dan kaum perempuan. PKI juga tercatat sebagai organisasi politik pertama yang melakukan pemberontakan bersenjata terhadap kolonial. Caat itu: massa yang terorganisir dan terpimpin, bukan massa mobilisir seperti ini", sahut Keithy berapi-api.
"Iya tapi semua kan butuh proses, Keithy. Harus selalu sabar dan cerdik memasok kesadaran sejati dalam setiap panggung yang disediakan". Keithy tak mengindahkan celetukan Sishee, terus melanjutkan, "Januari lalu ibu Megawereng menganjurkan pemerintah menaikan harga BBM. Tapi beberapa minggu lalu, malah mengecam wacana kenaikan harga BBM yang digulirkan pemerintah, dan sekarang justru meneken tanda tangan yang berisi seruan melarang kader-kader Partai Dekrit Ibu Pimpinan terlibat dalam aksi demontrasi menolak kenaikan BBM. Di bawah radikal, kok di atas malah main MoU-an".
"Iya Keithy, semoga kaum gerakan bisa menjadi alternatif menuju perubahan yang lebih baik di negeri ini, tanpa perlu merusak lampu merah, mobil dinas, tanki, fasilitas umum, atau ketentraman warga." Senja telah turun menghampiri, keduanya makin jauh dari barisan massa aksi, hanya lagu iwak peyek yang masih samar-samar terdengar. SPBU yang baru dilewati-pun tampak sepi, hanya satu-dua kendaraan yang singgah untuk mengisi bahan bakar. Tak ada antrian panjang seperti yang heboh diberitakan di media massa. Kota Showrockboyo tetap seperti sediakala.
[Note: Kesamaan atau kemiripan nama, peristiwa, lokasi, maupun momen hanyalah kebetulan semata,- tanpa ada kesengajaan.:)]
*******
Dante Che, 28/ 03/ 2012
Minggu, 25 Maret 2012
Sepak-Bola Modern
Permainan purba turun temurun
Berbalut melodi dramatik yang mengalun
Sejak masa Chao-Chao di pertempuran bukit merah
Hingga masa modern yang berdarah-darah
Berubah berkembang seiring lintasan benua
Berebut klaim pemilik sah di bawah semesta
Cikal bakal, penemu, sekaligus maestro
Bak gladiator jaman Romawi kuno
Para prajurit beradu tangkas
Kerja sama sebelas melawan sebelas
Gemuruh gegap gempita suporter
Mengiringi tiupan peluit sang arbiter
Dewa dewi pantas blingsatan
Kawula telah mulai beralih pemujaan
Lapangan hijau melahirkan banyak penyelamat
Dalam aksi-aksi menawan nan memikat
Pele, Maradona, Zidane, hingga Messi
Kepada merekalah dialamatkan novena dan devosi
Akhir pekan peringatan penciptaan alam
Kapital berputar kencang tak kenal siang-malam
Sebutir bola mungil yang liar menggelinding
Menghadirkan berbagai kenikmatan dalam gemerincing
*******
Dante Che, 25 / 03 / 2012
Berbalut melodi dramatik yang mengalun
Sejak masa Chao-Chao di pertempuran bukit merah
Hingga masa modern yang berdarah-darah
Berubah berkembang seiring lintasan benua
Berebut klaim pemilik sah di bawah semesta
Cikal bakal, penemu, sekaligus maestro
Bak gladiator jaman Romawi kuno
Para prajurit beradu tangkas
Kerja sama sebelas melawan sebelas
Gemuruh gegap gempita suporter
Mengiringi tiupan peluit sang arbiter
Dewa dewi pantas blingsatan
Kawula telah mulai beralih pemujaan
Lapangan hijau melahirkan banyak penyelamat
Dalam aksi-aksi menawan nan memikat
Pele, Maradona, Zidane, hingga Messi
Kepada merekalah dialamatkan novena dan devosi
Akhir pekan peringatan penciptaan alam
Kapital berputar kencang tak kenal siang-malam
Sebutir bola mungil yang liar menggelinding
Menghadirkan berbagai kenikmatan dalam gemerincing
*******
Dante Che, 25 / 03 / 2012
Kamis, 22 Maret 2012
Bukan Sebuah Ratapan Prihatin
Kami takkan berunding dengan maling di rumah kami sendiri, begitulah guratan seruan Tan Malaka pada kolonialisme dan fasisme yang menjajah Indonesia kala itu. Kini memang tak ada lagi para kompeni berambut api yang seenaknya memerintah kerja rodi atau para prajurit cebol yang semena-mena menyiksa pekerja romusha. Van den Bosch ataupun Hirohito telah lama mati, tapi warisan ide-ide mereka tentang eksploitasi negeri jajahan kini telah hadir dalam kemasan baru yang berbeda. Konon sopan, beretika-moral, dan sesuai dengan beragam tetek bengek regulasi.
Para pemimpin negeri masa kini lebih asyik dalam selubung demokrasi elitisme yang mereka ciptakan sendiri. Lima tahun sekali mendekati rakyat dengan macam-macam janji, selebihnya tiap hari memenuhi layar media elektronik ataupun menjadi berita di media cetak, sok mengutuki sistem tanpa memberikan jalan keluar yang konkrit dan sejati bagi rakyat.
Tan tentu saja bukan orang yang suka berputus asa, lebay, atau suka curhat pada publik. Tetapi, kalau menyaksikan situasi saat ini, paling tidak akan sungguh terperangah. Sebelum wafat, dia masih menyaksikan dan mendengar ada pemimpin negeri bekas jajahan yang berani menyerukan dan menegakkan kedaulatan politik, ekonomi yang berdikari, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Berani menolak dominasi modal asing, berani bilang pada negeri imperialisme; go to hell with your aid, atau kata-kata; Inggris kita linggis-Amerika kita seterika, dll.
Elit-elit sekarang seolah-olah lupa pada sejarah bangsanya sendiri. Lebih memilih berkolaborasi, berkompromi, atau menjadi komprador-calo hegemoni modal asing, ketimbang mendukung atau mendorong progresifitas rakyat yang sedang marak di mana-mana. Kalaupun saat ini ada elit yang terlibat dalam aksi-aksi massa rakyat, toh tak lebih, hanya dipakai sebagai posisi tawar berebut ceceran kekuasaan.
Sehingga, rakyat haruslah belajar berorganisasi dan berpolitik, mendirikan lebih banyak organisasi-organisasi kerakyatan, rakyat haruslah punya kepercayaan diri untuk tidak lagi percaya pada elit-elit komprador, agar perjuangan rakyat yang tulus dan militan tidak sia-sia dan hanya sekedar tumpangan kaum oportunis.
Rakyat haruslah mempelajari kembali sejarah bangsanya secara lurus, bahwa negara ini terbentuk karena perjuangan rakyat, bukan hadiah dari siapapun. Tidak boleh lagi lupa, atau seolah-olah lupa. Seperti yang Milan Kundera tulis, perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.
*******
Dante Che, 22 / 03 / 2012
Para pemimpin negeri masa kini lebih asyik dalam selubung demokrasi elitisme yang mereka ciptakan sendiri. Lima tahun sekali mendekati rakyat dengan macam-macam janji, selebihnya tiap hari memenuhi layar media elektronik ataupun menjadi berita di media cetak, sok mengutuki sistem tanpa memberikan jalan keluar yang konkrit dan sejati bagi rakyat.
Tan tentu saja bukan orang yang suka berputus asa, lebay, atau suka curhat pada publik. Tetapi, kalau menyaksikan situasi saat ini, paling tidak akan sungguh terperangah. Sebelum wafat, dia masih menyaksikan dan mendengar ada pemimpin negeri bekas jajahan yang berani menyerukan dan menegakkan kedaulatan politik, ekonomi yang berdikari, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Berani menolak dominasi modal asing, berani bilang pada negeri imperialisme; go to hell with your aid, atau kata-kata; Inggris kita linggis-Amerika kita seterika, dll.
Elit-elit sekarang seolah-olah lupa pada sejarah bangsanya sendiri. Lebih memilih berkolaborasi, berkompromi, atau menjadi komprador-calo hegemoni modal asing, ketimbang mendukung atau mendorong progresifitas rakyat yang sedang marak di mana-mana. Kalaupun saat ini ada elit yang terlibat dalam aksi-aksi massa rakyat, toh tak lebih, hanya dipakai sebagai posisi tawar berebut ceceran kekuasaan.
Sehingga, rakyat haruslah belajar berorganisasi dan berpolitik, mendirikan lebih banyak organisasi-organisasi kerakyatan, rakyat haruslah punya kepercayaan diri untuk tidak lagi percaya pada elit-elit komprador, agar perjuangan rakyat yang tulus dan militan tidak sia-sia dan hanya sekedar tumpangan kaum oportunis.
Rakyat haruslah mempelajari kembali sejarah bangsanya secara lurus, bahwa negara ini terbentuk karena perjuangan rakyat, bukan hadiah dari siapapun. Tidak boleh lagi lupa, atau seolah-olah lupa. Seperti yang Milan Kundera tulis, perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.
*******
Dante Che, 22 / 03 / 2012
Rabu, 21 Maret 2012
Jogging Pagi
Lembaran hari baru dibuka
Sejuknya udara pagi menerpa
Sisa-sisa kantuk hilang sirna
Segar memupuk asa
Memacu gerak menatap cakrawala
Walau nafas tersengal satu-dua
Desahan nafas menyesaki rongga dada
Kadang menafikan fakta sebagai insomnia
Arungi lingkaran jalanan kota
Deretan pepohonan sepanjang jalan raya
Padu padanan penyehat raga
Menikmati pagi dan sejuk-segarnya udara
Yang sungguh sangat mahal harga
Bersemangatlah senantiasa!
*******
Dante Che, 22 / 03 / 2012
Sejuknya udara pagi menerpa
Sisa-sisa kantuk hilang sirna
Segar memupuk asa
Memacu gerak menatap cakrawala
Walau nafas tersengal satu-dua
Desahan nafas menyesaki rongga dada
Kadang menafikan fakta sebagai insomnia
Arungi lingkaran jalanan kota
Deretan pepohonan sepanjang jalan raya
Padu padanan penyehat raga
Menikmati pagi dan sejuk-segarnya udara
Yang sungguh sangat mahal harga
Bersemangatlah senantiasa!
*******
Dante Che, 22 / 03 / 2012
Langganan:
Postingan (Atom)