Sabtu, 09 Februari 2013

Belum Ada Judul


Pagi dini hari, 1 januari 2013, pukul 03.00 pagi. Dunia larut dalam euforia pergantian tahun, berbagai resolusi yang disusun ditumpahkan dalam ledakan kembang api dan panasnya perapian pemanggang ikan yang dibeli dari daerah Pabean. Dipadu dengan arak dari daerah Tuban. Sukacita global yang dinikmati ala lokal. Duduk melingkar beralaskan tanah beratapkan langit.

"Sejarah adalah gerak melingkar maju. Ibarat sebuah titik pada ban, dia akan berulang bergerak dari atas ke bawah ke samping dan seterusnya, kemanapun seturut putaran ban melaju", Erwin yang tampaknya sudah agak oleng tiba-tiba berfilosofis membuka bahan obrolan, mungkin terinspirasi dari ember ikan dan botol-botol yang terguling terkena ayunan kakinya.

"Ah, apakah si Jemblung yang jago panggang ikan ini, suatu saat bisa jadi presiden?", Sekar menyela sekenanya mengalihkan pembicaraan, membuat Erwin mendelik. "Paman Ho alias Ho Chi Minh sebelum menjadi presiden revolusioner karismatis Vietnam, dahulunya adalah juga seorang tukang masak seperti Jemblung ini. Hahaha".

"Ngeledek sekali lagi, aku ga mau panggang lagi ikan-ikan ini lho".

"Bagiku, sejarah itu seperti lampu spion pada kendaraan men. Kita bebas zig-zag atau ugal-ugalan di jalan, tapi kita tetap butuh spion untuk lihat kendaraan lain di belakang kita", sela Mbah pada Erwin, agar si Jemblung tak memperpanjang polemiknya.

"Think globaly, drink localy". "Ngomong tok, mending ngombe ae, ojok abot-abot"(omong tok, mending minum saja, jangan rumit-rumit), Ratna dan Sekar cerocos protes bersamaan, kesal karena topiknya terlalu berat.

Langit Dukuh Kupang diselimuti awan tebal, pendaran kilatan cahaya kembang api ciptakan semburat jingga. Aku sendiri terdiam menyaksikan serunya orang-orang ini berdebat khas Suroboyoan. Baru seminggu kukenal, karena baru seminggu pula kutempati kost-kostan di gang ini.

"Jancok, arek-arek iki gateli. Ga keren blas", seseorang yang kulupa namanya menyela, tampaknya dia tertarik dengan obrolan berat yang sedang berjalan.

Arak Tuban telah ludes, si Jemblung datang lagi dengan Cukri, minuman khas kota ini. Minuman yang membuatku berancang-ancang akan pamit. Tapi, diamku ternyata tak membuatku beruntung, karena mereka menahanku. Pepatah, diam itu emas, tampaknya kadang-kadang tak menguntungkan.

"Sejarah menurutmu bagaimana bung Juan?" Erwin bertanya padaku.

Erwin ini konon kabarnya, mahasiswa yang aktif di gerakan mahasiswa kampusnya. Juan adalah panggilanku sehari-hari di gang ini, setidaknya selama seminggu ini.

"Sejarah itu tergantung bagaiamana masyarakah menerimanya", kucoba pragmatis-diplomatis agar tak berlama-lama.

"Wah, jeru iki" (wah dalam nih), Erwin mencoba mengembangkan percakapan.

"Kami, khususnya saya kurang paham, bisa dijelaskan lebih lanjut?" Mbah memancing.

Sialan, batinku dalam hati. Kuakui juga duet keduanya bagai duo Che-Castro muda yang sedang panas-panasnya belajar agitasi propoganda. Hahaha.

Akhirnya kuteruskan, "tergantung masyarakat atau massa menerimanya. Kalau mereka menerima kisah Arak Tuban, jadilah sejarah Arak Tuban, sebaliknya kalau mereka menerima kisah Cukri, jadilah sejarah Cukri. Begitulah sejarah, tergantung siapa yang membuatnya dan bagaimana orang menerimanya".

"Hahaha, jadi bung mau bilang kalau bung tidak suka Cukri, dan sekarang mau pamit?"

"Hahaha, kurang lebih begitulah"

"Oke, sampai ketemu besok. Hahaha"


*******

Kala perusahaan-perusahaan kartu selular gencar mengeksploitasi euforia pergantian tahun para kawula, ku pernah dengan sedikit kesal menulis, "siang malam hanyalah rotasi bulan pada bumi, dan pergantian tahun adalah revolusi bumi pada matahari. Dan itu selalu berulang membentuk siklus, mengiringi sang waktu". Jadi tak perlulah terlalu ribet dibuatnya. Seperti kata Pramoedya, "hidup itu sederhana, yang rumit hanya tafsiran-tafsirannya saja".

Atau seperti yang Ragil Nugroho tulis, "sejarah resmi menulis tentang gejala, tak menulis tentang sebab. Sejarah resmi akan mengisahkan seorang tokoh atau pahlawan dengan seabrek kebajikan, sembari mengabaikan peranan massa kolektif  dan orang-orang pinggiran. Karena yang dilihat adalah gejala, bukan sebab, maka ketika seorang penipu ditipu, si penipu akan berada pada posisi sebagai korban atau bahkan pahlawan. Sebuah generasi akan menciptakan pahlawannya sendiri sebagai icon angkatannya, sebagai pembasuh dosa segala kebobrokannya. Publik dan era demi era menerimanya sebagai kebenaran".

Sampai di sini, ku-teringat seorang teman tukang ciu asal Maumere yang sangat mengagumi Pablo Escobar dan Che Guevara, karena keeksentrikan dan keeksotisan keduanya. Dia selalu antusias kala Don Pablo atau El Che kusebut-sebut.

USA membangun image buruk tentang Don Pablo sebagai seorang pemimpin kartel Narkoba dan obat-obat terlarang lainnya. Slogan Don Pablo pada saingan-saingannya, " Plata o plomo" (perak atau suap) gencar dikampanyekan AS sebagai sebuah hal yang buruk dan pantas dihancurkan. Sehingga publik internasional merasa sah-sah saja kala Kartel Medellin dan dirinya dihabiskan oleh USA. Tapi berbeda dengan masyarakat kota kelahirannya. Bagi mereka, Don Pablo adalah santo, malaikat, ataupun pahlawan. Hal itu terbukti tak kurang dari 25.000 orang mengantarkannya ke pemakaman, berebut untuk membawa petinya, atau guratan abadi hingga kini Amando Pablo Odiando Escobar.

Publik internasional pun lupa atau seolah tak tahu, selepas Don Pablo masih ada kartel Cali dan perusahaan-perusahaan farmasi USA yang melanjutkan kegiatan ala Don Pablo.

Sebaliknya, USA tak mampu membangun image buruk tentang El Che. Pesonanya terlalu kuat dan besar. Tapi USA memang selalu panjang akal dan tampaknya tak pernah hilang akal. El Che dikapitalisasi. Spirit dan ideologi kiri anti kemapanannya pun hilang tergerus. El Che pun tenggelam dan hanya selesai pada level tattoo, poster, sticker, pernak-pernik, atau kata-kata heroiknya, dll.

Sejarah memang tergantung siapa yang membuat dan bagaimana masyarakat menerimanya. Itu sebenarnya kata-kata milik Yang Du Hee dari film Fugitive: Plan B yang sering kunonton jam 03.00 dini hari di Indosiar. 

*******

Bagi siapapun sekalian yang suka  pada hal-hal yang berbau teori konspirasi, pasti sangat yakin kalau setiap sejarah modern yang terjadi di berbagai belahan bumi saat ini, di baliknya pasti ada Israel atau Mossad. Setidak-tidaknya, itulah yang saya dengar dalam berbagai obrolan kalau sudah bersentuhan dengan isu-isu konflik jalur Gaza saat ini.  

Mossad dikisahkan begitu saktinya, mirip kisah dalam film Wanted yang dibintangi Angelina Jolie. Apa saja yang kemudian terjadi telah diatur sedemikian rupa oleh invisible hand, meminjam istilahnya Adam Smith.

Kisah-kisah teori konspirasi itu sesungguhnya membuat kita terlena dan terlelap dalam alam ketidak-kritisan. Kita menjadi cepat mengambil konklusi dengan metode suudzon alias tanpa bukti, bertindak tanpa strategi dan taktik, menjalani proses dalam limbung hingga mudah terbawa ke sana kemari dalam alam advonturisme.

Seperti halnya publik yang sah-sah saja kala Don Pablo atau El Che ditembak mati, atau yang oke-oke saja kala disodori Cukri.

Tak ubahnya remaja-remaja ababil-labil yang mudah disihir demam K-Pop atau yang memposting status-status galau saban hari di jejaring sosial.

"Sejarah manusia adalah sejarah perjuangan klas", begitulah kata-kata awal Marx dalam Manifesto Komunisnya. Klas tertindas tidak akan memperoleh haknya kalau tak berjuang. Atau seperti kata kaum agamawan, "Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum tersebut tak berusaha".

Sejarah ditulis oleh pemenang, dan tentu saja tak mewakili keseluruhan dan kebenaran ceritanya.

Euforia Natal dan tahun baru masih menjalar, renungan-renungannya masih belum lekang dari ingatan. Tulisan tanpa judul ini sebenarnya ingin diperpanjang ke hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini di negara dan lingkungan terdekat kita. Akan tetapi berita kebakaran ruang arsip gedung Kemenkumham membuat buyar ingatan kasus-kasus awal tahun tentang perang saudara di Syuriah tak kunjung berakhir, penembakan brutal di USA dalam sebulan, pemerkosaan sadis di India, kasus sodomi di Gresik, tabrakan sang anak menteri, kekerasan seksual berujung kematian anak perempuan pemulung di Jakarta, rumah sakit yang dijadikan sebagai tempat syuting sinetron, dll.

Tampaknya benar apa yang ditulis oleh AS Laksana, "inilah seni menjadi bodoh". Orang-orang bodoh yang menjadi penguasa, mengajak kita untuk ikut menjadi bodoh. Suatu kebodohan yang menjadi seni, dan luas diterima masyarakat.

Yang Du Hee, si pemimpin mafia itu tidak bodoh, tapi kata-katanya diterima luas oleh orang-orang bodoh.

*******

Dante Che, 07 Januari 2013

Rinai-Rinai Kisah Berlawan


Sambil berbaring kutulis kembali kisah ini,
kisah setelah kekalahan kaum progresif,
cerita bermula di awal sembilan belas tujuh puluh empat
ketika pembungkaman mulai secara masif nyata,
ada rinai-rinai perlawanan di ibukota
kaum urban dan mahasiswa memenuhi jalanan
menantang terik dan membakar apa yang ada,
penggusuran, basis lahirnya taman mini Indonesia indah
pembakaran di tanah abang, nyambi yel-yel anti mobil Jepang,
rinai-rinai cuma mampu membentuk kelokan air
yang mengalir, berujung keruh
tanpa dukungan dari desah parau daerah-daerah,
apalah artinya rinai-rinai geopolitik

Di tahun sembilan belas tujuh delapan,
rinai-rinai bergemericik di daerah-daerah
sementara di ibukota kembali kemarau,
rinai-rinai itupun keruh akhirnya,
apalah artinya bejibun rinai-rinai tanpa masifitas geopolitik,
berujung pada nasib naas, dengan munculnya;
normalisas kehidupan kampus-badan koordinasi kampus,
makin kering kerontanglah seluruh negeri,
bahkan rinaipun enggan mampir

Di sembilan belas delapan puluhan,
laksana kaktus di tengah padang gurun kehidupan
berbagai varian praksis dan aliran membentuk awan,
sayup-sayup dan seadanya merenda asa
minoritas bukan alasan berpangku dan memohon iba
kelindan mitra, jaringan, dan sel lewat kontak
manfaatkan kesempatan berbuah peluang
hindari fatamorgana

Di sembilan belas sembilan puluhan,
bendera telah dikibarkan, pantang diturunkan
menyusuri kali-kali kering, meniti lembah mendaki bukit
latihan-latihan menghadapi menara gading tiran,
sembari tetap awas pada fatamorgana,
pada advonturisme dan oportunian,
selalu waspada pada alat-alat rezim militerisme,
mulai dari menwa di kampus hingga organisasi pemuda-mahasiswa
yang terkooptasi rezim

Hingga tibalah saatnya ketika itu, sembilan belas sembilan delapan
rinai-rinai berubah berderai-derai,
tumpah-ruah memenuhi jalanan
banjir bandang perubahan menjungkalkan otoritarian
gejolak massa luar biasa, terlarut dalam euforia
tak awas menatap, banyak yang terapung berenang
tak tenggelam

Pekik reformasi ke seantero negeri
keluar mulut buaya masuk mulut singa
situasi kini kembali terjajah
derai-derai hanyalah tinggal kisah,
bahkan rinai-rinaipun enggan menyapa

28 oktober di depan mata
guratan prasasti heroik para pemuda-pemudi
83 tahun silam berikrar
satu nusa, satu bangsa, satu bahasa
tanah air tanpa penindasan
bangsa yang gandrung akan keadilan
bahasa tanpa kebohongan
Jangan biarkan itu kerontang tanpa rinai-rinai
mari bersatu bangkit melawan,
mengguratkan kisah berlawan generasi
dua ribuan!

*******

YKG, 07 / 10 / 2011

Sabtu, 09 Juni 2012

Sebuah Pertemuan

Setelah sekian lama menghilang
Kembali bertemu dirimu dalam tualang
Duhai Kamaratih yang didamba pulang

Membolak-balik lembaran sejarah
Ikhtiar menggapai aneka arah
Agar tak menjadi usang sejumput kisah

Butir-butir harap yang tersemai
Tersembul pohon rindu yang tegak berdiri
Menggelegak menjulang tinggi

Sang bayu membelai dalam desau
Padu padan lantunan notasi lagu
Mengguncang menghempas segala penjuru

Berderap langkah tegap sang Kamajaya
Lantang menantang tatap pandang semesta
Pamrih pengisi kekosongan dalam jiwa


******* 

Dante Che, 02 / 06 / 2012

Kisah Tentang Kehilangan Handphone

Dini hari menjelang subuh, ada yang mengendap datang. Di halaman, gerbang tak terkunci. Suasana hening sepi, pertanda para penghuninya sedang dibuai mimpi dalam lelap tidur. Keadaan yang damai dan tenang seperti itu, rupanya menggoda insan yang lewat untuk mendongakkan kepala melihat-lihat keadaan di dalam, sekedar iseng-iseng mengamati atau bahkan untuk maksud-maksud tertentu yang lebih khusus dan serius.

Itulah yang terjadi pada pagi hari 19 Mei itu. Dewo Dawo, seorang anak kost-kostan yang sedang dalam kesulitan keuangan, mencoba bermusafir ria dari satu ke lain tongkrongan, mencari sedikit pengganjal perut dari kawan-kawan yang mungkin berbaik hati membagi rejeki.

Sampailah ia di depan kostnya Etus Atus, kawan sefakultasnya yang berasal dari kepulauan Sunda Kecil. Gerbang kost yang tak terkunci, suasanan kompleks yang tenang, dan keadaan kost yang sepi, memudahkan Dewo Dawo untuk dengan bebas mendatangi kamar kawannya di lantai dua. Tekadnya sudah bulat. Ia akan berpura-pura datang berkunjung atau meminjam buku, kemudian meminjam uang.

Sesampainya di depan kamar Etus, didapatinya kamar dalam keadaan terbuka.Etus sendiri telah lelap tertidur dengan sebuah buku tebal masih terhampar terbuka di hadapannya. Kamar tampak rapi, walau beberapa buku, baju, dan gelas bekas minum teh tampak belum dibereskan. Mungkin Etus ketiduran, begitulah Dewo mencoba menerka-nerka. Di samping bantal pembaringan, tepat di depan pintu, dilihatnya ada tiga buah handphone teronggok pasrah.

Rasa lapar yang membuncah, mendorongnya untuk segera membangunkan Etus dari nikmatnya lelapan. Akan tetapi, sejurus kemudian, ia tampak ragu. Mendadak pikiran liarnya bergemuruh, menghujam nurani mengobrak-abrik logika. Kesempatan emas yang terbentang telah melahirkan ide brilian mengatasi krisis yang dialaminya.

Diredamnya teriakan rasa bersalah dalam dirinya, disingkirkannya sentimen kesetiakawanan. Segera dengan gesit ia mengambil dua dari tiga handphone tersebut, yang dianggapnya paling gres, dan dengan gesit pula segera meninggalkan kamar dan kost kawannya tersebut. Semuanya berlangsung cepat, dan keadaan tetap hening sepi, tenang dan damai.

Segera Dewo Dawo menjualnya pada orang yang mampu menebusnya, berapapun harganya. Ia membutuhkan uang dalam waktu cepat. Malam nanti ada pertandingan final Liga Champions antara Bayern Muenchen vs Chelsea. Walau bukan penggemar fanatik sepakbola, ia juga butuh dana untuk terlibat dalam euforia masal ini.

Satu dua hari berjalan setelah kejadian tersebut, Dewo Dawo tak melihat adanya tanda-tanda adanya respon di kalangan kawan-kawannya atas kehilangan handphone yang dialami oleh Etus Atus. Kawan-kawannya pun tampak tenang-tenang saja, sambil menduga jangan-jangan kedua handphone tersebut justru dijual oleh Etus Atus sendiri.

Dengan demikian, Dewo Dawo merasa aman. Tak ada yang mengetahui perbuatannya. Itu telah menjadi rahasia dalam penggalan sejarah. Apalagi dilihatnya Etus Atus tampak bersikap baik-baik dan wajar sebagaimana biasa kepadanya.

Dalam kegelapan aksinya, ia lupa pada bumi tempatnya berpijak, pada langit yang diterangi rembulan tempatnya bernaung, menjadi saksi, juga dalam keadaan hening sepi, tenang, dan damai. Akan selalu ada mata yang memandang, mengamati segala gerak-gerik tingkah laku setiap makhluk. Baik yang hanya iseng-iseng ataupun yang punya maksud khusus dan serius.

Mendengar penuturan dari semua saksi mata maupun sukma, Etus Atus tampak tenang dan tak terburu-buru meresponnya. Ia tahu bahwa handphone-nya telah dijual, tapi sim card masih disimpan oleh Dewo Dawo. Rupanya kawannya Dewo Dawo itu tak tega untuk membuang sim card tersebut, dan masih mencari-cari peluang untuk mengembalikan sim card tersebut.

Etus hanya berharap bahwa tak perlu mengganti rugi handphone tersebut, tapi segeralah kembalikan sim card-nya, karena ia sangat membutuhkan. Selebihnya, biar bagaimanapun, mereka tetaplah kawan.


******* 

Dante Che, 31 / 05 / 2012

Minggu, 27 Mei 2012

Pentakosta Pagi Bersama Pelopor Epenisme

Mentari masih mengitari sisi bumi, tanpa lelah memancarkan keperkasaan sinarnya ke segala penjuru jagat, menyisakan bias-biasnya, residu pertarungan angkasa dengan pekat gelapnya mega-mega berlapis-lapis langit. Di balik julangan tinggi gedung-gedung kota metropolis, di pojokan bangunan-bangunan berdarah warisan kota pahlawan, dua anak manusia merenda asa meletupkan vitalitas dalam gairah kawula muda yang membakar menyala-nyala.

Hari minggu pagi ini, umat kristiani merayakan hari raya pentakosta. Hari raya yang panjang kisahnya dengan benturan pergumulan sosiologis di tempat kelahirannya. Mulai dari kemunculan Kristiani, pengikut Kristus, yang berbenturan dengan dua budaya mapan yang telah ada sebelumnya, budaya Yahudi dan budaya Yunani hingga persoalan teologis yang melingkupinya, dan tentu saja ancaman kekuasaan politik dengan segala macam perangkat regulasi beserta alat pemaksanya.

Konon, roh kudus yang turun dalam bentuk api pada hari Pentakosta inilah yang membuat para jemaat awal Kristiani ini tercerahkan kesadaraannya, dapat bercakap-cakap dalam berbagai bahasa, dan merekrut pengikut-pengikut baru dari berbagai belahan ras. Api yang tentu saja tak jauh beda racikannya dengan api yang sedang bercumbu dengan ujung lintingan sigaret subuh ini, membakar tembakau, penghangat raga menanti terbitnya fajar. Api yang sama juga yang dibawa Promotheus atau John Walker.

Mereka tak mengenal Promotheus, sang pembawa api utusan para dewa Olympus. Juga mereka sama sekali tak mengenal John Walker, si kimiawan asal Inggris yang mencampurkan potas dan antimon hingga menghasilkan korek api gesek untuk pertama kali. Dalam pelajaran di sekolah menengah, mereka tahu bahwa api dihasilkan dari oksidasi cepat terhadap suatu material dalam proses pembakaran kimiawi, yang menghasilkan panas, cahaya, dan berbagai hasil reaksi kimia lainnya.

Kontradiksi itu tak mereka persoalkan, mungkin juga telah dilupakan. Mereka punya pegangan baru, namanya epenisme. Sebuah pegangan ala anak-anak anarki, yang bersemai di warung pojok alias wapo yang juga kadang-kadang disebut sebagai rumah tua. Wapo atau rumah tua inilah yang sehari-hari menjadi base-camp anak-anak wapo yang biasa disingkat AW, mirip sebuah tempat makan cepat saji asal negeri dedengkotnya kapitalisme, USA.

Subuh yang hening, sepi. Epenisme ala wapo sedang membawa mereka menapaktilasi jejak langkah sejak kali pertama bertualang ke Jawadwipa ini. Yang seorang berasal dari Sunda Kecil, dan yang satunya lagi berasal dari Mameluk. Dua negeri yang di masa lalu, sebelum kedatangan Olanda dan Jepun,  pernah menjadi perebutan daerah koloni antara Peranggi dan Ispanya, karena kekayaan cendana dan rempah-rempahnya.

Epenisme bisa lahir-tumbuh dan mekar, menjalar ke berbagai ras, terangkai menjadi gugusan kelindan, karena ternyata disatukan oleh pandangannya yang tak ingin dikuasai oleh siapapun, juga tak ingin menguasai siapapun. Hidup bebas seturut jatidiri dan kemauannya sendiri. Mereka sepakat bahwa hidup itu sederhana, sedangkan yang rumit adalah tafsiran-tafsirannya.

Sejauh tangan menggapai, kaki melangkah, mata memandang, nyatalah bahwa kaum epenisme jauh lebih banyak jumlahnya daripada kaum inteletual yang memberikan cap stempel individualistik atau semau gue pada mereka. Kaum intelektual, lebih-lebih 'intelektual-urban', selain kalah kuantitas juga lebih daripada itu, sama sekali tak lebih baik secara kualitas, malah lebih banyak yang gagap menghadapi modernitas dalam praksis. Siangnya berteriak melawan Imperialisme ataupun feodalisme dan malamnya keluyuran menjajal dunia gemerlap alias dugem sembari mencari kupu-kupu malam, bahkan banyak yang melacurkan prinsipnya demi watak oportunisnya.

Begitulah yang terjadi, subuh itu, mereka pulang dari acara in the hoy-nya. Kaum intelektual yang menjadi anggota Gereja, segera bersiap merayakan pentakosta. Dan yang bukan anggota Gereja pun berkumpul, bersiap-siap merayakan peringatan hari ulang tahun idola mereka, Ibnu Khaldun sang filsuf asal Tunisia, dengan menggelar diskusi di lobby kampus. Undangan diskusi mereka yang seharusnya bisa diletakan sebagai pembawa api pencerahan kesadaran, justru malah membuyarkan acara napaktilas kedua anarkis epenisme itu.

Hiruk pikuk muncul dari arah pasar tradisional, pertanda telah bangkitnya penghuni kolong langit dari buaian malam. Perlahan sang Apollo menampakan rupanya dari balik kabut pagi, kaum epenisme pun pamit, wapo pun kembali sepi, merindui senja segera datang membawa malam, karena malam adalah sahabat kaum epenisme.

Terima kasih untuk kaum epenisme, karena pernah diizinkan untuk numpang nongkrong. Selamat hari raya Pentakosta buat yang merayakan! 

*******

Dante Che, 27 / 05 /2012

Senin, 16 April 2012

Selamat Ulang Tahun!

Fajar masih bergulat dengan pekat rimbunnya Pipodo, berusaha menaklukkan dingin yang seolah-olah abadi menyelimuti kota kecil Bajawa. Inerie di selatan dan Inelika di utara setia mengapiti, memayungi lembah kota di daerah pegunungan yang terletak kurang lebih 1.100 m di atas permukaan laut ini.


Puncak-puncak Wolongadha menjadi pemantul sedikit kehangatan dari sang surya, menghalau para kawula yang masih asyik menggolekkan diri dalam kain panas (selimut) di tempat tidur atau rutinitas pagi hari; duduk-duduk melingkari tungku api sambil menikmati kopi Bajawa.

Itu selasa pagi pukul 09.15 wita- 17 april tahun 1990, tentu ada yang harus bangun pagi-pagi untuk pergi dheso sapi atau loka ngana, berangkat ke sekolah atau pergi kerja, ataupun sekedar ngeu nata atau weghi ulu, dan macam-macam lainnya. Di sana-sini, beberapa keluarga tampak masih asyik terlelap dalam epik romantisisme berkumpul dengan keluarga besar masing-masing, walau pesta paskah telah lewat seminggu.

Sementara itu, di RSUD Bajawa, tangis bayi memecahkan kesyahduan pagi, membahana memenuhi lembah. Tak jelas motifnya menangis. Yang jelas, tak ada yang mencubit atau memarahinya. Mungkin karena dingin atau karena kenyamanannya selama 9 bulan dalam kandungan harus berakhir. Atau jangan-jangan ada janjian di antara para bayi untuk menciptakan tren menangis saat dilahirkan, dan hanya sesama bayi saja yang mengerti. Entahlah!

Konon, setelah melalui pendiskusian, mungkin juga perdebatan terhadap beberapa opsi yang diajukan, si bayi campuran Turekisa-Mangulewa yang baru lahir itu diberi nama Juanito Cletino Gurado Delano. Jelas tanpa melalui voting, karena sudah ada mekanismenya tersendiri bernama Soro Fena, alias bersin saat pertama kali diberikan nama.

Berdasarkan kepercayaan turun temurun yang diwariskan nenek moyang, kalau bayi bersin atau buang air tepat ketika diberikan sesuatu nama, itu artinya si bayi setuju dengan nama tersebut.

Tentu saja mekanisme ini lain dengan bayi yang sehari sebelumnya juga baru memekikkan tangis pertamanya di dunia. 4 selat ke arah barat kota Bajawa, di tengah-tengah hiruk-pikuk kota Jakarta tepatnya. Juga tak jelas apa motifnya menangis, karena toh tak ada bukit atau pepohonan rimbun yang menghalangi sang surya, tak ada dingin abadi di kota metropolis tersebut. Gedung-gedung pencakar langit yang dibangun di atas penggusuran, darah, dan air mata kaum marjinal pun tampaknya tak menciptakan kepengapan bagi yang mendiaminya.

Yang jelas, juga tak ada voting di sini. Entah bagaimana mekanismenya. Besar kemungkinan, nama tersebut telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Maka jadilah si bayi diberi nama Nia Ramadhani.

Makin bergeser ke arah barat kota Bajawa, melewati 2 samudera, di kota Harlow, Essex-Inggris, seorang gadis remaja bernama Victoria Adams sedang merayakan hari ulang tahunnya yang ke-16. Rambut hitam panjang berpadu kulit cokelat, cemerlang dalam balutan tawa ria Barbeque Party. Tentu ada banyak gadis Bajawa yang lebih cantik daripadanya.


Seandainya nenek moyangnya lebih lama menjajah Hindia (Indonesia), mungkin rutinitas pagi di Bajawa adalah memadukan kopi dengan barbeque, atau Stadion Lebijaga dipermak menjadi stadion dengan kapasitas besar dan PSN Ngada menjadi salah satu raksasa sepakbola, dan Bajawa dipenuhi dengan mansion-mansion mewah para pesepakbola atau selebriti di kampung Bena. Tenunan-tenunan ikat disulap jadi kiblat mode. Mungkin.

Terlalu rumit kalau mengandai-andaikan sejarah. Yang pasti, tadi barusan, kurang lebih pukul 17.30-an wib, Bu Laksmi, sang pemilik kios di kompleks melahirkan anaknya dengan selamat. Konon, nama panggilannya adalah Emka. Juga dengan tangisan, beriring berpadu dengan suara azhan dari surau yang mengepung dari 3 jurusan, pemberian nama untuk Emka memakai mekanisme voting.

Selamat ulang tahun untuk Nia Ramadhani & Victoria Adams!
Selamat datang di dunia tangis & tawa untuk Emka!

(NB : Notes iseng-iseng)

*******

Dante Che, 16 / 04 / 2012

Rabu, 04 April 2012

BBM

Akhir-akhir ini, sebagian besar anak negeri larut ribut dalam pro kontra wacana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Melalui BlackBerry Messenger (BBM), elit-elit menebar kicau bangkitkan provokasi. Bambang Boediono Mundur (BBM) menjadi salah satu seruan yang marak, bersanding dengan asa para sepakbola mania; Barca Bantai Milan (BBM) agar terwujud final idaman Barca Battle Madrid (BBM).

Rakyat Benar-Benar Marah (BBM), berhadapan dengan pemerintah yang tampaknya Benar-Benar Manja (BBM), juga kelakuan parpol-parpol di gedung dewan  perwakilan rakyat yang Bikin Bingung Masyarakat (BBM). Susunan kabinet yang lebih tepatnya disebut Birokrasi Bongkar Muat (BBM), menjadi semakin dramatis dengan tarik ulur subsidi yang konon akan dipergunakan sebagai Bantuan Buat Masyarakat (BBM).

Kompromi, deal-dealan, ataupun dagelan yang elit-elit tampilkan, makin tak mampu menyembunyikan wajah mereka yang sebenarnya; Bandit-Bandit Maling (BBM). Perlawanan di mana-mana, Bara Berkobar Menyala (BBM), protes datang dari berbagai kalangan. Rakyat turun ke jalan Berlawan Bersama Mahasiswa (BBM), juga pemogokan , Buruh Bangkit Menggugat (BBM).

Kini keputusan kenaikan harga untuk sementara ditunda, tetapi represifitas Begundal-Begundal Militer (BBM) menyisakan soal. Maka, kepada seluruh rakyat negeri, marilah Berbareng Bergerak Melawan (BBM)!


*******

Dante Che, 04 / 04 / 2012

Jumat, 30 Maret 2012

Rakyat Melawan Tirani

Penguasa berkoar tentang statistika dan janji-janji
Raut meyakinkan dalam balutan senyum yang mengilusi
Menciptakan manajemen konflik dalam berbagai opini

Aparat militer tak ubahnya zombi
Alat rezim untuk menjaga supremasi
Agar kekuatan modal tetap menghegemoni

Rakyat dihadapkan dengan TNI-Polri
Perlengkapan perang versus perlengkapan aksi
Selongsongan peluru menghajar pekikan orasi


Sebagian elit lainnya mencoba manfaatkan situasi
Kembali berusaha membangun kampanye citra diri
Seolah membela gerakan yang sedang teradikalisasi

Rakyat tak boleh lagi sampai dibodohi
Harus berani percaya dengan kekuatan sendiri
Menggugat kemanusiaan yang terus dibantai

Gugus kelindan jaringan yang terangkai
Derapkan langkah satukan nurani
Bergerak maju menggempur tirani!

*******


Dante Che, 30 / 03 / 2012

Kamis, 29 Maret 2012

Dialog Dalam Barisan Demonstrasi

"Dalam bertarung, para pejuang rela berkorban, mati-matian, militan; para pemberani memenangkannya; dan para pecundang menguasainya. Coba kamu ingat, apa yang partai ini lakukan saat ibu pimpinan mereka menjadi penguasa negeri ini. Bukankah mereka tenang-tenang saja saat ibu pimpinan mereka menjual aset-aset nasional ke pihak asing? Bukankah saat berkuasa dulu, ibu pimpinan mereka berkali-kali menaikkan harga BBM, mensahkan UU no 13 tahun 2003 yang sangat merugikan kaum buruh, membebaskan koruptor-koruptor besar, tak berani mengadili para jenderal pelanggar HAM, tak berani mengusut kejahatan-kejahatan Orba, dsbnya. Mereka ini jelas bukan petarung, pejuang, atau pemberani. Mereka hanyalah lingkaran pecundang yang ingin memanfaatkan situasi dan wacana kenaikan BBM kali ini", Keithy membuka percakapan menghilangkan rasa bosan yang sejak tadi melanda.

"Kamu jelas bukan sosok pemaaf. Yang kedua, kamu harus paham bahwa materi itu selalu berubah, berdialektika. Yang dahulu kawan sekarang bisa jadi lawan, begitupula sebaliknya, yang dahulu lawan sekarang bisa jadi kawan. Di kelompok para elit sana juga ada perpecahan, juga ada faksi-faksi", Sishee menimpali sambil tetap asyik mengamati metode aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh Partai Dekrit Ibu Pimpinan.

Saat itu, belum genap tiga perempatnya senja, tapi Keithy sudah gerah berada di tengah hiruk-pikuk aksi demonstrasi yang lebih menyerupai rangkaian acara kampanye ini. Sementara aksinya konon bakal berlangsung hingga malam menjelang. "Kaum gerakan tak boleh kekiri-kirian, tak boleh berlaku elitis. Harus menghampiri kaum ekonomis, moralis, bahkan yang reaksioner sekalipun. Karena tak ada gerakan yang besar yang tak politis", lanjut Sishee di sela-sela dentuman musik dangdut yang mengalun dari mobil komando. Tampak pula para kader-kader dan simpatisan yang berkaraoke, asyik berjoget ria sambil memaki-maki ketua DPRD (dewan pimpinan rok-mini daerah), Gubernur, dan Presiden yang kebetulan berlatarbelakang dari Partai Duit. Bahkan Walikota perempuan yang mereka usung dan menangkan dalam pilkada-pun dimaki-maki karena tak mau menemui mereka. Beberapa Polwan cantik tampak berusaha untuk tidak salah tingkah, saat jadi sasaran godaan massa aksi, yang didominasi kaum pria.

"Tapi begini Sishee, orang-orang selalu menjadi korban tipu muslihat atau sering menipu diri dalam kehidupan politiknya, dan mereka akan terus menerus bersikap demikian bila mereka tidak berhasil memahami kepentingan-kepentingan klas di balik tabir moral, agama, sosial-politik, deklarasi-deklarasi, dan janji-janji".  Sishee tersenyum, mengangkat bahu, sejurus kemudian, tampak teringat sesuatu. "Ah Keithy, itu kan kata-katanya Vladimir Lenin tentang prinsip metodologi Marxisme yang paling mendasar, tentang pendekatan klas. Yang mengasumsikan bahwa masyarakat terbagi ke dalam klas-klas".

Maka, mulailah dua sahabat yang bolos kuliah untuk ikut demonstrasi itu tenggelam dalam debat tentang berbagai hal yang mereka baca ataupun pelajari sendiri. "Begini Sishee, benar bahwa di antara kaum elit-pun ada perpecahan, persaingan, ataupun faksi-faksi. Tapi berbeda dengan faksi-faksi dalam kaum gerakan yang punya perspektif anti imperialisme asing dan menolak sisa-sisa feodalisme, elit-elit kita kan tak lebih dari borjuasi komprador. Bermental pengecut sejak kemunculannya, progresif saat tertekan, dan konservatif saat memimpin. Sebelum berkuasa, ibu Megawereng muncul sebagai sosok yang dizolimi pak Hartomcat. Setelah turun dari kekuasaan, malah menuduh Jend (Purn) SiBuaYa menusuknya dari belakang. Itu politik Sishee, tak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan. Mereka sama-sama berkepentingan terhadap berlangsungnya hegemoni kapitalisme dan mendapatkan ceceran kekuasaan. Pro-kontra kenaikan BBM tak lebih dari upaya kampanye merebut simpati rakyat, atau yang lebih parah lagi, seperti biasa, adalah media pengalihan isu. Mulai dari persoalan peradilan para tersangka korupsi, pilkada di daerah pusat kekuasaan, dll. Sebagaimana yang Don Corleone katakan, di balik setiap keuntungan yang besar, terdapat kejahatan yang besar".

Saat Keithy sedang panjang lebar memberikan penjelasannya pada Sishee, tampak beberapa kader Partai Dekrit Ibu Pimpinan sedang membagi-bagikan nasi bungkus, tahu isi, dan minuman kepada massa aksi yang sejak beberapa menit lalu mulai berkurang drastis, ditinggal pulang.  Belakangan diketahui kalau ternyata banyak yang lapar, sebagian lagi beralasan ngantuk, dan beberapa punya agenda lain. Dari atas mobil komando, sang orator mewanti-wanti massa aksi agar jangan ikut-ikutan pulang, karena makanan untuk alas perut sudah datang.

"Nah Sishee coba kamu lihat. Seumur-umur ikut aksi, baru kali ini ada aksi yang bagi-bagi nasi bungkus tanpa kita urunan sebelumnya". Sishee tampak sedikit kesal, " Keithy, kita ke sini kan bukan untuk mengamati pembagian makanannya. Kita kan bersolidaritas. Ini partai oligarkis, yah kita-pun sama-sama tahu. Tapi coba kamu ingat-ingat, setelah PKI (Partai Komunis Indonesia), belum ada lagi partai besar yang punya basis massa banyak yang memakai politik mobilisasi massa. Partai-partai besar kan selalu berkompromi, penyelesaian dengan jalan deal-dealan. Ada partai besar memobilisasi basis massa dengan tuntutan menolak kenaikan BBM seperti ini tentulah sebuah kemajuan, dan patut diapresiasi. Kita harus bisa mengambil manfaat dari radikalisasi isu kenaikan BBM ini".

"Hey Sishee, sebelum ini kan ada Partai Keongracun Selamat yang juga memakai politik mobilisasi massa, menyerukan jihad melawan Yahudi. Tapi mobilisasi massanya Partai Keongracun Selamat dengan Partai Dekrit Ibu Pimpinan ini berbeda dengan politik mobilisasi massanya PKI. PKI adalah partai modern pertama di Indonesia yang sejak kemunculannya tetap konsisten melawan kolonialisme, imperialisme, dan sisa-sisa feodalisme. Memimpin perjuangan berbagai organisasi kaum progresif revolusioner yang terorganisir dan terpimpin, yang terdiri dari klas buruh, kaum tani, mahasiswa, pemuda, seniman, dan kaum perempuan. PKI juga tercatat sebagai organisasi politik pertama yang melakukan pemberontakan bersenjata terhadap kolonial. Caat itu: massa yang terorganisir dan terpimpin, bukan massa mobilisir seperti ini", sahut Keithy berapi-api.

"Iya tapi semua kan butuh proses, Keithy. Harus selalu sabar dan cerdik memasok kesadaran sejati dalam setiap panggung yang disediakan". Keithy tak mengindahkan celetukan Sishee, terus melanjutkan, "Januari lalu ibu Megawereng menganjurkan pemerintah menaikan harga BBM. Tapi beberapa minggu lalu, malah mengecam wacana kenaikan harga BBM yang digulirkan pemerintah, dan sekarang justru meneken tanda tangan yang berisi seruan melarang kader-kader Partai Dekrit Ibu Pimpinan terlibat dalam aksi demontrasi menolak kenaikan BBM. Di bawah radikal, kok di atas malah main MoU-an".

"Iya Keithy, semoga kaum gerakan bisa menjadi alternatif menuju perubahan yang lebih baik di negeri ini, tanpa perlu merusak lampu merah, mobil dinas, tanki, fasilitas umum, atau ketentraman warga." Senja telah turun menghampiri, keduanya makin jauh dari barisan massa aksi, hanya lagu iwak peyek yang masih samar-samar terdengar. SPBU yang baru dilewati-pun tampak sepi, hanya satu-dua kendaraan yang singgah untuk mengisi bahan bakar. Tak ada antrian panjang seperti yang heboh diberitakan di media massa. Kota Showrockboyo tetap seperti sediakala.

[Note: Kesamaan atau kemiripan nama, peristiwa, lokasi, maupun momen hanyalah kebetulan semata,- tanpa ada kesengajaan.:)]


******* 

Dante Che, 28/ 03/ 2012

Minggu, 25 Maret 2012

Sepak-Bola Modern

Permainan purba turun temurun
Berbalut melodi dramatik yang mengalun

Sejak masa Chao-Chao di pertempuran bukit merah
Hingga masa modern yang berdarah-darah

Berubah berkembang seiring lintasan benua
Berebut klaim pemilik sah di bawah semesta

Cikal bakal, penemu, sekaligus maestro
Bak gladiator jaman Romawi kuno

Para prajurit beradu tangkas
Kerja sama sebelas melawan sebelas

Gemuruh gegap gempita suporter
Mengiringi tiupan peluit sang arbiter

Dewa dewi pantas blingsatan
Kawula telah mulai beralih pemujaan

Lapangan hijau melahirkan banyak penyelamat
Dalam aksi-aksi menawan nan memikat

Pele, Maradona, Zidane, hingga Messi
Kepada merekalah dialamatkan novena dan devosi

Akhir pekan peringatan penciptaan alam
Kapital berputar kencang tak kenal siang-malam

Sebutir bola mungil yang liar menggelinding
Menghadirkan berbagai kenikmatan dalam gemerincing

*******

Dante Che, 25 / 03 / 2012

Kamis, 22 Maret 2012

Bukan Sebuah Ratapan Prihatin

Kami takkan berunding dengan maling di rumah kami sendiri, begitulah guratan seruan Tan Malaka pada kolonialisme dan fasisme yang menjajah Indonesia kala itu. Kini memang tak ada lagi para kompeni berambut api yang seenaknya memerintah kerja rodi atau para prajurit cebol yang semena-mena menyiksa pekerja romusha. Van den Bosch ataupun Hirohito telah lama mati, tapi warisan ide-ide mereka tentang eksploitasi negeri jajahan kini telah hadir dalam kemasan baru yang berbeda. Konon sopan, beretika-moral, dan sesuai dengan beragam tetek bengek regulasi.

Para pemimpin negeri masa kini lebih asyik dalam selubung demokrasi elitisme yang mereka ciptakan sendiri. Lima tahun sekali mendekati rakyat dengan macam-macam janji, selebihnya tiap hari memenuhi layar media elektronik ataupun menjadi berita di media cetak, sok mengutuki sistem tanpa memberikan jalan keluar yang konkrit dan sejati bagi rakyat.

Tan tentu saja bukan orang yang suka berputus asa, lebay, atau suka curhat pada publik. Tetapi, kalau menyaksikan situasi saat ini, paling tidak akan sungguh terperangah. Sebelum wafat, dia masih menyaksikan dan mendengar ada pemimpin negeri bekas jajahan yang berani menyerukan dan menegakkan kedaulatan politik, ekonomi yang berdikari, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Berani menolak dominasi modal asing, berani bilang pada negeri imperialisme; go to hell with your aid, atau kata-kata; Inggris kita linggis-Amerika kita seterika, dll.

Elit-elit sekarang seolah-olah lupa pada sejarah bangsanya sendiri. Lebih memilih berkolaborasi, berkompromi, atau menjadi komprador-calo hegemoni modal asing, ketimbang mendukung atau mendorong progresifitas rakyat yang sedang marak di mana-mana. Kalaupun saat ini ada elit yang terlibat dalam aksi-aksi massa rakyat, toh tak lebih, hanya dipakai sebagai posisi tawar berebut ceceran kekuasaan.

Sehingga, rakyat haruslah belajar berorganisasi dan berpolitik, mendirikan lebih banyak organisasi-organisasi kerakyatan, rakyat haruslah punya kepercayaan diri untuk tidak lagi percaya pada elit-elit komprador, agar perjuangan rakyat yang tulus dan militan tidak sia-sia dan hanya sekedar tumpangan kaum oportunis.

Rakyat haruslah mempelajari kembali sejarah bangsanya secara lurus, bahwa negara ini terbentuk karena perjuangan rakyat, bukan hadiah dari siapapun. Tidak boleh lagi lupa, atau seolah-olah lupa. Seperti yang Milan Kundera tulis, perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.


*******

Dante Che, 22 / 03 / 2012

Rabu, 21 Maret 2012

Jogging Pagi

Lembaran hari baru dibuka
Sejuknya udara pagi menerpa
Sisa-sisa kantuk hilang sirna
Segar memupuk asa
Memacu gerak menatap cakrawala
Walau nafas tersengal satu-dua
Desahan nafas menyesaki rongga dada
Kadang menafikan fakta sebagai insomnia
Arungi lingkaran jalanan kota
Deretan pepohonan sepanjang jalan raya
Padu padanan penyehat raga
Menikmati pagi dan sejuk-segarnya udara
Yang sungguh sangat mahal harga
Bersemangatlah senantiasa!

*******

Dante Che, 22 / 03 / 2012

Cerpen Tanpa Dialog

Pengunjung mulai tampak penuh ketika Juan dan Evita memasuki kafe ini. Kafe bernama X-tra Large. Nama yang mirip dengan brand sebuah kartu seluler yang sedang tren, kartu seluler tersebut yang juga kebetulan menjadi media berkomunikasi Juan dan Evita hingga akhirnya janjian untuk bertemu di kafe yang terletak di pinggiran kota yang cukup panas ini. Kota yang beberapa waktu lalu baru saja menghentakkan pentas nasional dengan menampilkan kecerdasan dan kreatifitas anak-anak SMK dalam membuat mobil.Yang entah kenapa pula, ditolak sebagai mobil nasional dan tak bisa diproduksi massal.


Juan dan Evita yang ini tentu saja bukan Juan dan Evita Peron, pasangan beken dari Argentina, negara favorit mereka setelah Indonesia, karena trinitasnya; Evita, Maradona, dan Che Guevara. Juan dan Evita Peron yang legendaris itu, kini tinggalah menjadi legenda yang dikenang sebagai pemimpin yang membela kepentingan rakyat marginal, yang berkuasa pada dekade 1940-an sampai 1970-an. Juan dan Evita Peron tentu saja adalah idola mereka, tepatnya sejak mereka duduk di kelas 1 SD, medio tahun 1996. Tahun di mana film Evita yang dibintangi Madonna, Antonio Banderas, dan Jonathan Pryce laku keras di pasaran. Walau kini Argentina telah memiliki pasangan baru dan menjadi pemimpin yang membela kepentingan rakyat dalam diri Nestor dan Christina Kirchner, tetap saja pesona Juan dan Evita Peron tak lekang dari keduanya.

Juan dan Evita bersama melewati masa kanak-kanak mereka di daerah Dukuh Kupang, Surabaya Selatan. Kala itu, Dukuh Kupang belumlah seramai dan sepadat sekarang, yang kini diapiti oleh beragam bangunan dan corak budaya. Sebelah selatan ada kawasan prostitusi Dolly di jalan Jarak yang menjadi kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara dan menjadi salah satu sumber terbesar pendapatan daerah, ada perkuburan Kristen-Belanda di Kembang Kuning yang kini ramai dipakai sebagai tempat mangkal kaum waria kala malam menjelang, di utara ada deretan sekolah-sekolah mulai SD sampai SMA, di bagian timur ada wilayah Simo yang sore hari selalu ramai dengan pasar rakyat yang menjual berbagai macam barang dengan harga terjangkau, di bagian barat ada Ciputra World yang superlengkap sebagai sarana rekreasi, ada Vida Triple Seven sebagai tempat menonton film dan arena permainan billyard, ada juga julangan hotel yang salah satunya adalah Shangri-La; yang biasa dipakai elit-elit untuk mengkonsolidasikan kekuatan sekaligus memacetkan jalanan Mayjend Sungkono, ada juga berbagai apartemen, tempat karaoke, dan restoran cepat saji Mc Donald yang berhadapan dengan citarasa Ikan Bakar Cianjur.

Karena di Dukuh Kupang ketika itu hanya ada Supermarket, Islamic Centre, Gereja, Kampus, Kantor Polres, dan deretan berbagai macam warung, maka akhir pekan masa kecil mereka biasanya diisi dengan nonton film di Tunjungan Plaza atau jalan-jalan ke Taman Kenjeran. Ada banyak tempat, baik sebagai tempat rekreasi maupun tempat-tempat bersejarah yang bisa dikunjungi untuk menambah pengetahuan ataupun memaknai perjuangan para pahlawan. Ada Tugu Pahlawan, Bambu Runcing, Hotel Majapahit (dulu Hotel Oranje/Yamato), Jembatan Merah, Balai Pemuda, Gedung Cak Durasim, dan masih banyak lagi tempat-tempat lainnya. Tapi mereka seringkali memilih mengunjungi Taman Kenjeran untuk melihat Patung Liberty tiruan di pintu masuk taman tersebut, atau Patung Buddha dan Dewi Kwam Im di kuil yang terletak di tepi pantai. Tentu saja dengan ditemani kedua orangtua mereka. Taman yang pantainya kini tak lagi indah, karena sering tercemar, dan kini lebih sering dipakai sebagai tempat pacaran bebas ala anak-anak ABG kala malam gulita.

Ketika kelas 4 akan memasuki caturwulan (cawu) ke-2, Evita pindah ke Jakarta, mengikuti orang tuanya. Saat itu, usia 9 tahun dan hubungan di antara orang tua keduanya yang hanya diikat oleh kepentingan usaha dan pekerjaan, membuat keduanya putus komunikasi sama sekali. Hingga akhirnya usia mereka memasuki 21 tahun. Mark Zuckerberg, orang Yahudi-Amerika yang tak pernah mereka kenal itu, menolong mereka untuk kembali merajut tali komunikasi melalui media buatannya yang bernama facebook. Selanjutnya telephone, sms, dan BBM-an menjadi media perantara untuk menghilangkan jarak jauh yang membentang antara Jakarta dengan Surabaya, media yang meminimalisir rindu yang membuncah di antara mereka.

12 tahun tak pernah bersua, ada banyak perubahan yang mereka rasakan. Demikianlah, alam beserta isinya akan selalu berubah dan berkembang maju seturut lajunya sang khronos, waktu. Dulu, makanan favorit mereka adalah AW paket 1; sekepal nasi, 2 potong ayam, dan root-beer dingin. Kini, Juan yang menderita asma dan tak tahan dengan udara atau cuaca dingin, punya teori sendiri yang diyakininya, yakni cukup meminum air putih tanpa es, sedangkan Evita yang menderita kolesterol pada usia muda ini, dilarang untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung minyak, termasuk buah duren yang menjadi kesukaannya.

Suasana kafe yang tenang meski lagi ramai pengunjung, iringan lantunan spesial lagu-lagu Oldies milik Nike Ardilla yang kebetulan adalah penyanyi Indonesia yang sangat diidolakan Evita, membuat percakapan di awal sua menjadi lebih santai. Karakter tanpa basa basi say hello ba-bi-bu ciri khas mereka ternyata tak pernah hilang. Dalam sebentar saja, mereka sudah pindah dari satu topik ke topik yang lainnya. Mulai dari kisah Gesang sang seniman kerakyatan yang menguraikan kisah aliran sungai yang mengaliri bagian bawah kafe ini lewat lagu kroncongnya, wacana kenaikan BBM dan isu pelarangan rok mini, pemilukada wilayah pusat yang melibatkan walikota daerah ini, kilasan film Pak Belalang yang jadi trending topic obrolan masa kecil mereka di sekolah dasar, diskusi filsafat tentang pertarungan materi versus ide, tentang menteri yang mengamuk di pintu tol, hingga perebutan Gunung Kelud antara Blitar dengan Kediri, dan ngalor-ngidul berbagai macam obrolan lainnya. Tak kalah keceriannya dengan seorang perempuan berkebaya dan sekelompok seniman lokal yang mengalunkan tembang demi tembang di sudut kafe ini.

Menjelang senja mereka pamitan pulang, berpisah. Juan harus segera kembali ke Surabaya, karena besok paginya dia ada jadwal kuliah. Tugasnya sebagai mahasiswa fakultas hukum yang melakukan penelitian di kota ini telah selesai sejak seminggu yang lalu. Sebaliknya, Evita harus kembali ke Jogja, menjemput anaknya yang baru berumur 2 tahun untuk kembali ke Jakarta.


Sekian.

*******

Dante Che, 21 / 03 / 2012

Selasa, 13 Maret 2012

Mak Ojan di Jalan Diponegoro

Deru kendaraan membelah jalanan
Lampu berpendaran
Nampak beringsut-ingsut sesosok bayangan
Yang hilang muncul di balik taman
Cahaya lampu yang temaran
Satu dua genangan
Sisa-sisa garukan penggusuran
Sedikit menghambat pencarian
Hingga akhirnya nampak orang sekumpulan
Yang sejurus pada lari berhamburan
Menyisakan seorang nenek sendirian
Dan tampak keletihan
Baru diketahui belakangan
Konon sang nenek dari Lamongan
Biasa disapa Mak Ojan
Tak punya handai taulan
Sehari-hari mengais di tempat sampah pembuangan
Buat penyambung nafas kehidupan
Tempat sampah menjadi media pengais keadilan
Yang dibuang dari balik gedung-gedung kekuasaan
Diponegoro, nama seorang pahlawan
Menjadi sebuah nama jalan
Tempat bersembunyi orang-orang yang disingkirkan


*******

Dante Che, 14 / 03 / 2012

Coretan Tentang Bangsa

Dalam salah satu tulisan dialogalnya, antara Candide kepada Martin, Voltaire menulis, "percayakah anda bahwa manusia selalu berbunuh-bunuhan, bahwa manusia selalu merupakan pengkhianat, idiot, maling, bajingan, rakus, pelit, pencemburu, dan munafik?" Sahut Martin, "elang selalu makan anak burung kalau berhasil menemukannya". Tentu saja, jawab Candide.  Cuplikan dari goresan Voltaire di atas bagaikan analogi terhadap realitas obyektif bangsa ini. Sejak negara-bangsa ini dibentuk, sudah tercatat begitu banyak pelanggaran hak asasi manusia. Yang paling sadis misalnya, pembunuhan masal pada kelompok progresif di akhir dekade 1960-an, pembantaian di Santa Cruz-Timor Leste dan wilayah konflik lainnya (semisal; Papua, Aceh, dll), penyiksaan dalam tahanan secara sadis, penggusuran penduduk dari tempat tinggalnya, dan kejahatan-kejahatan lainnya yang dilakukan penguasa atas nama negara dan kepentingan umum.

Yang terbaru, polemik kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mengiringi hingar-bingar wacana pelarangan pemakaian rok mini di seputaran gedung para wakil rakyat. Dua wacana yang sangat bertolak belakang dengan pesan Bung Karno sejak jauh-jauh hari, tentang bahaya neokolonialisme - imperialisme dan patriarki warisan tatanan feodalisme. Alih-alih mengkritisi kenaikan harga BBM yang akan ditempuh pemerintah, para wakil rakyat justru memilih untuk meributkan 'kenaikan' rok.

Seperti sudah dikatakan di atas, kenaikan BBM adalah cerita kesekian tentang kesewenang-wenangan penguasa terhadap rakyat. Sudah sejak lama pula perlawanan rakyat dilakukan bertubi-tubi, mulai dari pemogokan buruh, petani dan rakyat miskin yang menolak penggusuran, perlawanan mahasiswa, hingga perjuangan kaum perempuan menuntut kesetaraan; dengan berbagai macam kesadaran dan tuntutan, entah itu ekonomis, moralis, humanis, politis, ideologis, dsb-nya.

Melihat spontanitas perlawanan rakyat yang marak terjadi, para elit yang tak mau dicap SDM mini di tengah SDA yang maksi, berlomba-lomba merebut simpati rakyat. Setiap hari, di media massa, entah itu media cetak ataupun media elektronik, rakyat disuguhkan tontonan sengketa politik para elit sisa-sisa orde baru, reformis gadungan, dan aktifis-aktifis oportunis, berkoar-koar tentang kesejahteraan rakyat yang terancam akibat dinaikkannya harga BBM, tentang menolak neoliberal, tanpa memberikan jalan keluar sejati bagi rakyat yang konon mereka atas-namakan.

Pertarungan para elit yang tentu saja sama-sama pengabdi modal asing ini, menimbulkan kebingungan pilihan bagi rakyat. Kekuatan gerakan rakyat sendiri masihlah sangat kecil dan terpecah-pecah, padahal globalisasi penindasan modal asing semakin mencengkeram melalui regulasi-regulasi yang terlihat ilmiah dan rasional buatan elit-elit kita sendiri. Di antaranya, masifikasi eksploitasi kekayaan alam, penguasaan perdagangan (dengan membebaskan pajak impor, sedangkan ekspor harus dibatasi), intervensi politik (untuk meloloskan serangkaian kebijakan investasi), privatisasi BUMN, pencabutan subsidi pendidikan dan kesehatan, serta yang terbaru adalah pengurangan subsidi BBM, dll.

Di tengah situasi dan kondisi rakyat yang tanpa kekuatan; tanpa tanah, pengetahuan, modal, teknologi, dan organisasi, perlahan-lahan menyeruak pertanyaan dari sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer dalam novel Arus Balik, "masih dapatkah arus balik membalik lagi?"

Menjadi suatu tuntutan, kebutuhan untuk menuntaskan perjuangan pembebasan nasional dengan melawan imperialime dan pemerintahan agen imperialisme, serta tidak berkolaborasi dengan elit-elit pengabdi modal asing, dengan cara mengembalikan partisipasi rakyat banyak dalam kehidupan politik, serta ikut menentukan arah perkembangan masyarakat melalui politik mobilisasi massa, demokrasi partisipatoris.

*******

Dante Che, 13 / 03 / 2012

Sabtu, 03 Maret 2012

Renungan Singkat Meditasi Harian

Pada zaman dahulu, ada seorang pangeran yang menerima seekor burung yang sangat bagus dan jarang terdapat. Ia memberi nama Twee-twee, dan ditaruhnya pada sebuah sangkar emas. Tetapi makhluk yang malang itu tidak terkesan oleh sangkarnya. Ia memohon supaya dilepaskan. Tetapi sang pangeran sangat suka padanya, sehingga tak mau melepaskannya. Lalu Twee-twee memohon kepada pangeran agar sudi mengunjungi keluarganya di tengah hutan dan menceritakan pada mereka, bahwa meskipun ditahan, tetapi masih hidup.

Didorong oleh rasa sukanya pada burung tersebut, sang pangeran menyanggupi permintaannya. Berangkatlah pangeran ke hutan untuk menemui komunitas burung tersebut. Singkat cerita, setelah mendengar penuturan sang pangeran, segera kakak perempuan Twee-twee jatuh ke tanah dan pangeran sadar bahwa ia mati karena kesedihannya. Sedih karena mengetahui bahwa Twee-twee yang indah dan sangat mencintai kebebasan itu kini dikurung. Dengan sedih hati, sang pangeran kembali dan menceritakan kepada Twee-twee mengenai hal itu.

Seketika itu juga, Twe-twee jatuh tak sadarkan diri dengan cara yang sama seperti kakak perempuannya, lemas tak berdaya ke bawah dasar sangkarnya dan mati. Pangeran tersebut lalu mengeluarkan Twee-twee dari sangkar emasnya dan melemparkannya melalui jendela dan berkata bahwa, apakah gunanya menyimpan burung ini, jika ia telah mati. Dalam sekejap Twee-twee terbang pergi, berkicau dari ranting pohon yang satu ke ranting pohon yang lainnya. Yang pangeran sangkai adalah kabar buruk ternyata adalah sebuah pelajaran. Dengan pura-pura mati, kakakku mengajarkan kepadaku cara yang sama untuk lari, begitulah kicau Twee-twee dengan riangnya.

Demikianlah, banyak yang mencari-cari arti dari wafatnya Yesus di bukit Kalvari, dengan berbagai latar sentimentilnya. Karena itu, banyak yang hanya melayang-layang saja, meneliti berbagai hal yang mungkin dan tidak pasti, serta terus mencari dalam keabsurditasannya. Anak seorang tukang kayu yang mengubah  dunia sejak kelahirannya, pelayanan-pelayanannya, hingga kematiannya.

Kisah hidupnya mengajarkan kepada siapa saja untuk berani memikul salib hidupnya masing-masing, menghadapi berbagai kontradiksi dalam hidup dengan berani, teguh dalam pilihan, konsisten dalam menjalankan, dan bertanggungjawab pada hidup. Begitulah, orang bijaksana selalu mengajarkan hidup dengan pralambang perbuatan-perbuatan.

Selamat menjalankan masa Pra-Paskah buat semua!


*******

Dante Che, 03/03/2012

Rabu, 22 Februari 2012

Berita Tengah Bulan Dalam Sajak

Ada napi bentrok dan kebakaran di Lapas Kerobokan-Bali
Pasalnya tak ada keadilan bagi anak negeri
Di Cipinang, whistleblower menyusun konspirasi
Kasak-kusuk penyedap bumbu tirani

Sementara dunia maya heboh tentang polisi
Idola generasi unyu-unyu dan chibi-chibi
Dunia nyata dibayang-bayangi hantu korupsi
Berbalut kebohongan para tersangka maupun saksi

Ada aksi Indonesia tanpa FPI, tanpa kekerasan
Pentingnya menghargai segala macam perbedaan
Menolak pelbagai hegemoni dan keangkuhan
Mulai dari balik meja birokrasi hingga jalanan

Isupun dibelok ke hal ikhwal dunia preman
Mengilusi khalayak tentang pangkal persoalan
Demikianlah, dari satu ke lain trik pengalihan
Teriring pamrih bermacam problematika terlupakan

Tabrakan tugu tani masih belum hilang bekas
Pembunuhan berantai menyeruak tuk jadi topik bahas
Bersanding dengan berbagai kasus yang belumlah tuntas
Memenuhi memori arsip-arsip dan brankas-brankas

Intelektual turut membangun kebohongan dari universitas
Secara tak sehat gontok-gontokan saling tebas
Sama sekali tanpa perspektif meruntuhkan tatanan klas
Atau perlawanan terhadap hegemoni perdagangan bebas

Kala PRT menuntut kesejahteraan kaum si inem
Istana negara menyambut dengan isu kenaikan BBM
Meski tanpa ada kejelasan asal muasal problem
Tanpa peduli dicerca sebagai budak Imperialism

Dari Cikeas, presiden a.k.a penyanyi dikabarkan siap main film
Dari balik julangan gedung tinggi hingga warung tempe bacem
Publik menyambutnya sebagai hot-gossip di FB, twitter, atau ym
Akhirnya, untuk semua; carpe diem!

*******

Dante Che, 23 / 02 / 2012

Sabtu, 18 Februari 2012

Tentang Nama Dante Che

Setiap kali chatting, seringkali dihujani pertanyaan tentang nama Dante Che. Mulai dari pertanyaan; kenapa harus bernama Dante Che, apa arti dari Dante Che, atau apakah nama Dante Che ini asli atau bukan, dll bahkan ada yang uring-uringan tanpa alasan yang jelas dengan mengatakan bahwa pemakaian nama Dante Che semata-mata karena sering dilanda heroisme pada tokoh-tokoh hebat di masa lalu yang menggunakan nama tersebut atau tak pede menggunakan nama seperti yang tertera di akte. Generasi unyu-unyu nan chibi-chibi ini begitu pedulinya pada dunia virtual ini, sehingga merasa sangat perlu untuk mencantumkan data diri secara lengkap. Tulisan singkat nan iseng-iseng ini tidak bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, juga tak bermaksud untuk menepis tudingan-tudingan yang dilontarkan. Ini hanyalah hamparan fakta-fakta yang terekam seputar hal-hal yang 'berbau' Dante dan Che, yang ternyata banyak saling bertabrakan karakter-karakternya.

Misalnya Andante, yang biasa tertulis di bagian atas kanan partitur musik, menandakan untuk memainkan musik dalam tempo moderat, tempo sedang, tidak tinggi, tidak rendah. Tentu akan sangat bertabrakan karakternya dengan Augusto Pinochet, seorang jenderal diktator dari Chili, yang entah bagaimana hubungannya dengan kejatuhan Soekarno di Indonesia, Pinochet pun memakai sandi yang sama dengan penggulingan Soekarno di Indonesia; sandi Jakarta, kala menumbangkan presiden Salvador Allende. Atau misalnya tentang Don Vito Dante Clericuzio, seorang pemimpin mafia dalam trah mafia Sisilia, yang menjalankan kerja-kerjanya dengan gaya klandestin dan penuh konspiratif, tentu akan berbeda dengan Marcus Tullius Cic(h)ero yang juga sama-sama orang Italia, seorang pengacara, filsuf, dan pencetus teori humanisme. Masih ada lagi Dante Inferno's, nama game yang tentu berbeda dengan Javier Chevanton, pesebakbola berbakat nan bengal asal Uruguay atau klub top Chelsea, yang kebetulan adalah klub favoritku.

Juga masih ada lagi tentang tokoh Dante, kakaknya Ramses dalam novel fiksi 'Di Hatimu Aku Berlabuh' karya Marga T, tentu berbeda posisinya dengan Anton Chekov, seorang dokter, sastrawan-dramawan dan penulis yang sangat terkenal. Belakangan, ku juga teringat pada pelajaran Geografi dan berbagai catatan perjalanan, tentang dua oase indah yang rimbun dengan tanaman palem dan airnya yang mengalir setiap saat, memuaskan dahaga setiap musafir yang mengarungi Gurun Sahara. Dua oase itu adalah Oase Tamerza dan Oase Chebika. Yang laksana Ernesto Sr dan C(h)elia de la serna, selalu menyambut hangat kepulangan sang petualang, Ernesto Che Guevara. Yang dikenal sebagai seorang internasionalis progresif revolusioner, kelahiran Argentina berdarah Basque-Spanyol campuran Irlandia yang berjuang di berbagai negeri menentang imperialisme, dan bersama Fidel juga Raul Castro memimpin kemenangan revolusi Kuba, negara kecil tetangga USA. Menantang dan meledakkan tatanan dunia mainstream, seperti gunung Dante dalam film Dante's Peak yang dimainkan Pierce Brosnan dan Linda Hamilton. Sebuah film yang menggambarkan letusan gunung berapi di kota Dante, kota kecil di bagian Pacifik Northwest-Amerika. Pada masa kegelapan umat manusia, diyakini bahwa letusan gunung ataupun bencana alam lainnya adalah kemarahan ataupun hukuman para dewa, hingga akhirnya tiba suatu masa di mana sejarahwan Ammianus Marc(h)elinus menuliskan dengan detail bagaimana air laut menghempas dan menghancurkan kota Alexandria, menepis kisah mistis yang menyelubunginya. Juga tentang Dante Alighieri yang menggoreskan naskah panjang La Divina Commedia, sebuah komedi tentang Tuhan, yang diyakini sebagai peletak dasar bahasa Italia. Mirip kisah Willem Friedrich Nietzsche, yang menghabiskan hidupnya dalam pengembaraan tentang Tuhan, hingga akhirnya mengeluarkan kata-katanya yang terkenal 'Tuhan telah mati', juga karya-karya hebatnya seperti Zarathustra.

Akhirnya, nama Dante Che hanyalah nama akun fac(h)ebook yang dipasangi foto dan identitas lengkap nan asli, serta dipakai sebagai media menjalin perkawanan, tempat menumpahkan ide-ide, dan bertukar gagasan di dunia maya. Toh, kita masih hidup dalam alam nyata, bisa bersilahturahmi dan berbincang-bincang menggunakan semua indera yang kita miliki, beserta pikiran dan ketulusan yang terpancar dari hati. Seperti lantunan "you are beautiful, beautiful, beautiful.. kamu cantik cantik dari hatimu.." yang jadi hits andalan girlsband Cherrybelle.

Selamat membaca buat generasi unyu-unyu dan chibi-chibi!

*******


Dante Che, 19 / 02 / 2012

Sedikit Tentang Warung Pojok-Wapo- (Permainan Rima)

Semburat lembayung merona merah, perlahan senja menghantar sang surya ke dalam pekat yang bersiap mengatupinya. Jalanan masih basah, sisa-sisa banjir dan hujan yang baru reda. Tak jauh dari berbagai gelimang mewah, deretan warung kopi semi permanen menampung berbagai canda ria. Tak ada justifikasi benar ataupun salah, suasana dipenuhi nuansa apa adanya. Juga tak ada klasifikasi masyarakat atas ataupun bawah, semua sama rata tanpa strata.

Mulai dari ketupat, perasan air enau, hingga makanan rebus beronggok-onggok, menjadi semacam miniatur toko sembako. Orang-orang setempat, terutama para mahasiswa rantau, menamainya warung pojok, yang lebih terkenal dengan sebutan wapo. Sebenarnya nama tersebut kurang tepat, karena letaknya tidak semua seperti itu, ada juga yang tak terletak di pelosok, tapi juga terletak di pusat keramaian tempat orang menghabiskan waktu bermain catur ataupun domino. Malam menjelang akan selalu dikunjungi kalau sempat, petikan gitar mengiringi koor jalanan serak-serak parau, bersisian mulai dari yang kurus kering sampai yang montok, lantunkan cadasnya 'Living After Midnight' hingga syahdunya 'O Sole Mio'.

Ada yang hanya membaca koran, berjam-jam mendengarkan radio atau menonton televisi. Ada yang hanya menghabiskan malam nongkrong dengan teman-teman, juga ada yang mengisinya dengan debat-debat atau diskusi. Kadang-kadang juga sulangan bir dingin menjadi pengisi malam dalam temaran, cukup untuk mengembara dalam liarnya ilusi-ilusi. Memadukan hidup sebagai perjuangan, dalam balutan dan perangkap-perangkap hegemoni. Begitulah rutinitas warung pojok dalam keseharian, dari hari ke hari. Tak berlebihan juga tak berkekurangan, santai nan pasti. Linting-linting tembakau membenamkan wajah-wajah dalam kepulan, yang larut dalam hangat nikmatnya kopi. Korek api dari tangan ke tangan, penyala asa menanti terang pagi. Warung pojok menjadi media komunikasi masyarakat urban, dalam hidup yang penuh ironi. Yang selalu was-was terhadap penggusuran, pemuas nafsu serakah tirani bernama investasi.

*******

Dante Che, 18 / 02 / 2012

Kamis, 16 Februari 2012

Sebuah Sapa (HAI KAWAN)

*******

Rotasi Ah, A, Ih (H A I)

Beririsan bermadah                
Silih - menyilih                      
Menghimpun bara                  
Menuju ejawantah                 

Langit merona
Fajar merekah
Buih - buih
Mega - mega

Asa lirih
Membubung angkasa
Lantunan desah
Pekik didih

*******

Rotasi Ak, A, Wa, A, An (K A W A N)

Bersatu bergerak
Sekian raga
Larut sejiwa
Menantang purba
Bernama penindasan

Tanah pusaka
Goresan Pallawa
Kukuh dijaga
Kobar perlawanan
Bermula riak

Menggugat Pandawa
Menantang penguasa
Mencipta kedamaian
Setiap benak
Segenap bangsa

Berlanjut kawula
Menyerukan perjuangan
Dimanapun letak
Bersisian bersama
Menentang Kurawa

Demi kemanusiaam
Bergenggaman menolak
Segala dusta
Meluapkan kecewa
Hingga merdeka!

*******

Dante Che, 17 / 02 / 2012